Miras dan HIV di Wilayah Meepago Kian Meresahkan, Pemerintah Dinilai Tidak Serius
JURNALTIMUR.COM--- Pemerintah daerah di
wilayah Meepago (Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, dan Intan Jaya) dinilai tidak serius melihat persoalan di masyarakat terutama meningkatnya penularan HIV/AIDS, kematian akibat minuman keras (Miras) serta menjamurnya penyakit sosial seperti toto gelap (Togel), aibon, pencurian, tindak kriminal dan lain-lain.
Padahal dalam deklarasikan pada saat Musyawarah Besar (Mubes) tahun 2014, telah ada komitmen untuk memutus mata rantai kematian orang Meepago dan menyelamatkan orang Meepago dari
kepunahan sebagaimana di , hingga kini belum terealisasi.
Hal ini diungkapkan Kristianus Tebai, salah satu pemerhati masalah kesehatan di
wilayah Meepago, kepada JurnalTimur, Rabu, 31/05/2017). Tebai merasa prihatin terhadap kenyataan tersebut karena jika
dibiarkan, tentu cerita tragis akan menghiasi kehidupan sehari-hari masyarakat
Papua di wilayah adat Meepago.
![]() |
| Kegiatan sosialisasi bebas miras dan HIV-AIDS |
“Sampai kapankah kita harus biarkan fakta tragis ini di
tengah masyarakat Meepago? Kini sudah masuk tahun ketiga, belum ada aksi nyata
pemberantasan Miras, gebrakan penyelamatan manusia Meepago kian meredup.
Sayang, para pahlawan pemakarsa kegiatan yang mulia itu satu demi satu
dipanggil Tuhan,” beber Tebai.
Menurutnya, kegiatan Mubes pertama yang diadakan di Gereja Katolik
Kristus Raja, Siriwini, Nabire sungguh luar biasa. Kegiatan itu dihadiri langsung enam pimpinan daerah di wilayah Meepago bersama Gubernur
Papua Lukas Enembe.
Bahkan, kata Kris, di hadapan ribuan masyarakat Meepago yang turut
hadir Mubes, para kepala daerah ini mendeklarasikan kampanye bebas Miras, bebas HIV dan
memutuskan mata rantai kematian orang Meepago serta menyelamatkan orang Meepago
dari kepunahan.
Dikatakannya, hingga kini tak ada tindak lanjut bahkan peredaran Miras justru makin kencang. Korbannya bahkan terus meningkat tiap saat. Pun dengan penularan HIV yang sulit
dibendung.
Menurutnya penyumbang angka penghidap HIV terbanyak ada
di wilayah Meepago (Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, dan Intan Jaya). Belum lagi merajalelanya berbagai jenis penyakit sosial,
seperti Togel, judi, aibon, pencurian, kriminal, dan lainnya.
“Tumbuh subur di
tengah masyarakat bahkan hingga di perkampungan terpencil,” ucapnya melihat
kenyataan akhir-akhir ini.
Ia menyebut penularan HIV/AIDS di Provinsi Papua kian
mengkhawatirkan. Data tahun 2016, kasusnya sudah mencapai 26 ribu lebih. Data
ini tersebar di 29 kabupaten/kota.
Wilayah Meepago sebagai daerah penyumbang angka penghidap
terbanyak di provinsi Papua, Tebai membeberkan, sebenarnya angka tersebut
sangat kurang karena hingga kini masih banyak yang belum ditemukan. Hal ini
menurutnya karena tingkat kepedulian masyarakat terhadap HIV/AIDS sangat
rendah.
“Terlihat dari jumlah kasus penyandang penyakit HIV/AIDS
dari beberapa kabupaten di wilayah Meepago (Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai dan
Intan Jaya) tiap tahun angkanya cenderung menurun, bahkan angkanya masih sama seperti
tahun-tahun sebelumnya. Mengapa? Ini karena masih sangat rendahnya kesadaran
masyarakat terhadap pemeriksaan dan pengobatan HIV/AIDS,” ungkapnya.
Mencermati fenomena akhir-akhir ini tentu butuh keseriusan
semua pihak, tak terkecuali pemerintah daerah. Untuk itu, perlu jalin
keharmonisan diantara pimpinan daerah di wilayah Meepago.
“Sebaiknya adakan Mubes kedua. Lima pimpinan daerah Meepago
harus bersatu untuk selamatkan manusia Meepago dari rantai kematian, putuskan
mata rantai dengan hadirkan masyarakat 6 kabupaten lakukan musyawarah adat
lagi. Di kesempatan itu kita mengevaluasikan secara total hasil kegiatan
aspirasi dan rekomendasi Mubes pertama tahun 2014 lalu,” saran Tebai.
Untuk diketahui pada acara pembukaan Mubes pertama di
Gereja Kristus Raja, Nabire, Senin (17/11/2014), enam Bupati di wilayah Papua
Tengah Barat atau wilayah adat Meepago (Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan
Jaya, dan Mimika) menandatangani sebuah kesepakatan bersama untuk pemberantasan
Miras dan penanggulangan HIV/AIDS.
Kesepakatan tersebut, antara lain, Pertama: Kami para Bupati
siap dan bersedia memberantas penyakit sosial masyarakat, minuman keras dan
HIV/AIDS di wilayah adat Meepago, 6 kabupaten di Provisni Papua.
Kedua, Kami para Bupati bersama masyarakat di kabupaten kami
masing-masing akan menerapkan sebagai program prioritas utama, termasuk
mem-Perda-kan di daerah dalam rangka menyelamatkan masyarakat adat di wilayah
adat Meepago, 6 kabupaten di Provinsi Papua.
Ketiga, Kami para Bupati siap dan bersedia menerima hasil
keputusan Musyawarah Besar ini untuk dilaksanakan di kabupaten kami
masing-masing,
Kesepakatan ini dibuat demi mewujudkan Visi Papua Bangkit,
Mandiri dan Sejahtera. Janji pada saat itu adalah dengan disaksikan Tuhan Yang
Maha Kuasa, alam Papua, dan masyarakat Papua, semoga Tuhan menolong kita yang
bersepakat untuk laksanakan dengan sepenuh hati.
Ketika itu kesepakatan ini baru ditandatangani oleh tiga
bupati, yaitu Bupati Nabire, Isaias Douw, Bupati Paniai, Hengky Kayame, dan
Bupati Deiyai, Dance Takimai. Sementara, tiga bupati lain tidak hadir.
Penandatanganan kesepakatan bersama disaksikan langsung
Guberur Provinsi Papua, Lukas Enembe, Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP),
Timotius Murib, Ketua DPRP yang diwakili Ruben Magai, serta sejumlah pejabat
provinsi, pejabat dari 6 kabupaten, dan ribuan warga Meepago.
Usai ditandatangani 3 bupati, Gubernur Papua juga turut
membubuhkan tanda tangan sebagai ungkapan dukungan atas kesepakatan bersama
dalam kegiatan yang diprakarsai oleh Alm.Pater Nato Gobai, Pr sekaligus sebagai
ketua panitia.
“Saya mendukung kesepakatan ini. Para Bupati harus bersatu
dan selamatkan masyarakat kita,” pinta Enembe kala itu. (*BN)

Tidak ada komentar