Menjadi Birokrasi Tanpa Jiwa, Gubernur NTT dan Bupati Mabar “Dikotbahi” Romo Max Regus
JURNALTIMUR.COM--- Dalam kasus Pantai Pede di Manggarai
Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT),
Gubernur NTT dan Bupati Mabar
secara faktual kehilangan legitimasi politik. Dalam kondisi seperti ini
telah terjadi malaise kekuasaan dalam
diri pejabat terrsebut karena hanya menjadi mesin kekuasaan atau birokrasi
tanpa jiwa.
Fenomena sosial politik itu
disoroti dua peneliti asal NTT yang saat ini, sedang menjadi peneliti di Eropa, yakni
Romo Max Regus Pr, Peneliti di School of Humanities, Tilburg
University, the Netherlands dan Cypri Dale, peneliti di Institute
of Social Anthropology, Bern University, Switzerland.
![]() |
| Romo Max Regus Pr, sosiolog yang sedang meneliti di Belanda |
Secara akademis, kedua peneliti ini menilai Gubernur NTT,
Frans Lebu Raya dan Bupati Mabar Agus Dula sedang memperlihatkan gejala Malaise Kekuasaan Akut.
Menurut Romo Max dan Cypri, Pemerintah terlihat tidak rational
ketika memaksakan privatisasi pantai
publik untuk jadi hotel atau resort milik pihak swasta,
padahal di pihak lain, aspirasi
masyarakat tetap tidak berubah, tetap mempertahankan pantai itu sebagai pantai dan ruang terbuka untuk
kepentingan publik.
“Sikap ini memperlihatkan gejala Malaise Kekuasaan Akut yang
sedang menggerogoti politik dan kekuasaan di NTT dan Manggarai Barat. Malaise
Kekuasaan itu semacam gejala umum dari depresi dan sakit mental dan moral yang
mengindikasikan atau ada bersamaan dengan penyakit-penyakit akut lain,”
ujar Romo Max Regus Pr.
Dalam keterangan pers yang
diterima media ini (01/4/17), Romo Max dan Cipry menyoroti bahwa malaise kekuasaan itu Itu berhubungan dengan paradoks kekuasaan. “Gubernur NTT sudah terlalu lama berada di
tampuk kekuasaan,” kata kedua peneliti ini. “Kekuasaan yang berada terlalu lama di genggaman
akan menyebabkan depresi etis mengerikan dari kekuasaan,” kata mereka.
Menurut mereka lagi, soal Pede, sebetulnya dapat menjadi titik penting bagi
Gubernur NTT untuk menghentikan semua bentuk kerja sama dengan investor dalam
penggunaan kawasan Pede. “Itu
tidak dilakukan, malahan mengabaikan teriak protes dari publik,” tutur
kedua peneliti ini dalam siaran persnya.
![]() |
| Frans Lebu Raya dan Agus Dula (foto : floresa.co) |
Lebih dalam dari itu, Romo Max
dan Cipry menilai Gubernur NTT berkeras hati dan memperlihatkan dirinya sebagai
‘mesin kekuasaan atau birokrasi tanpa jiwa.
Sehingga tak ayal, sekali lagi
kedua peneliti itu, tanpa basa basi, menyebut Frans Lebu Raya sedang mempertontonkan
sikap ‘tegar tengkuk’ sebagai penguasa lokal. “Dalam dalam konteks Pede terlihat semacam ‘political not-working’ di tubuh
para penguasa,” ungkap Romo Max dan Cipry. (fadli)


Tidak ada komentar