Memperingati Hari Noken, Apa Manfaatnya ?
Oleh : Titus Pekei
SEJAK Noken diakui Unesco 04 Desember 2012, sejak itu tanggal 04
Desember setiap tahun dirayakan sebagai
hari Noken. Tentu saja gema hari Noken akan lebih terasa di Papua tempat
asalnya dibandingkan dengan daerah-daerah lain.
Terhitung sejak 2012 hingga Desember 2016 kemarin sudah empat kali Hari Noken
dirayakan sedemikian meriahnya terutama di Jayapura sebagai ibukota Provonsi
Papua. Pemerintah setempat, termasuk
Majelis Rakyat Papua (MRP) sebagai lembaga budaya dan komunitas mama-mama Noken
ikut serta meramaikan hari Noken ini.
Di luar Jayapura, beberapa kota di Tanah Papua juga merayakan Hari
Noken. Komunitas Noken berperan di sana dan pemerintah pun ikut serta mendorong
keramaian perayaan. Tak kurang dari itu semua, media tentu saja sangat
berperan. Peristiwa menjadi semakin semarak dari keterhubungan yang diciptakan
oleh media.
| Titus Pekei |
Pertanyaan, apa makna perayaan hari noken ini untuk masyarakat Papua dan
masyarakat dunia umumnya? Untuk membahas
hal itu tulisan ini mefokuskan pada empat hal yakni, Noken sumber kehidupan,
Semangat pengakuan Unesco, kegiatan Hari
Noken, dan Relevansi Hari Noken.
Noken Kehidupan
Sebagaimana diketahui, Noken Papua bukanlah tas, begitupun tas tidak
bisa disamakan dengan Noken. Warga Papua sudah mengenal tas buatan pabrik, tapi
tidak serta merta mengatakan Noken sama dengan tas. Sebebasnya orang menyamakan
tas dan Noken dilihat dari kegunaan praktis, tetap saja berbeda dari yang dikenal
dan dimaknai masyarakat adat Papua terhadap Noken.
Siapa pun perlu memasuki alam makna dan alam pikiran masyarakat Papua
untuk mengenal Noken. Sebab, Noken Papua dibuat dengan menyertakan berbagai
unsur kebudayaan di dalamnya diantaranya daya cipta, rasa, dan karsa. Noken
Papua merupakan bagian dari prestasi pencapaian masyarakat noken Papuani
sendiri atas kendali tumpuan harapan yang memoles bakat alami melalui kemahiran
kerajaninan tangan.
Pada tingkatan bahan, jenis, bentuk dan model tetap saja yang ditujukan
adalah penggunaan bahan-bahan alami dan
dimanfaatkan secara alami. Dari bahan
yang serba alami yang tumbuh di hutan-hutan Papua, kemudian dapat ditelusuri
warisan unsur tak benda ini terdapat di semua suku-suku di Papua.
Noken yang dari proses pembuatan hingga penggunaannya selalu menampakan
suatu kelangsungan hidup untuk mengisi,
menyimpan, dan membawa barang-barang
untuk menggenapi kehidupan sehari-hari. Dari hal yang bersifat pribadi yang
dapat diketahui dari isi Noken, siapa identias pemilik Noken dapat diketahui
dari sini. Ada norma, ada adat, budaya dan etika yang diwariskan dari masa ke
masa dari Noken ini.
Begitu menyatunya Noken dalam kehidupan masyarakat Papua, maka untuk
beberapa hal yang menyertai kehidupan masyarakat adat Papuani, Noken menjadi
simbol perdamaian dan keseburuan dan dalam saat yang sama Noken merekam sejarah
perjalanan hidup masyarakat Papua. Dalam
konteks yang luas, Noken memiliki mengandung nilai-nilai budaya yang sangat
penting seperti nilai filosifis hidup, nilai sosioligis, nilai antropologis,
nilai normatif hidup dan nilai psikologis batin.
Semangat Pengakuan Unesco
Noken yang identik dengan kehidupan masyarakat Papua, kemudian oleh perkembangannya
dengan segala daya usaha, noken kemudian
diakui oleh dunia dalam hal ini UNESCO. Tak sekedar pengakuan, tapi dengan cara
demikian dapat mendorong upaya melindungi dan mengembangkan warisan budaya
Noken, yang dimiliki oleh lebih dari 250 suku bangsa di Provinsi Papua dan
Papua Barat.
Pengakuan yang diberikan dunia, menjadikan titik balik yang sangat
penting dalam perkembangan dan kehidupan
masyarakat Papuani terhadap Noken. Dikatakan sebgai titik balik, lantaran
pengakuan semacam ini memancing orang untuk menengok apa yang sesungguhnya yang terjadi dengan Noken.
Tak kurang dari perhatian khusus terhadap Noken, proses pembuatan dan
kegunaannya pun digali. Pengakuan membawa daya hidup baru dalam hal pemaknaan.
Maka tidak saja hutan-hutan Papua sebagai tempat tumbuhnya bahan-bahan untuk
membuat Noken perlu dijaga dan dilestarikan, tapi juga bagaimana ada “himbauan
wajib” menggunakan Noken. Untuk yang terakhir kewajiban itu membawa pesan bahwa
menggunakan Noken berarti menjaga kearifan lokal.
Sebagai warisan dunia, hal yang diperhatikan adalah penyelamatan warisan
budaya leluhur manusia asli Papua. Peyelamatan ini tentu saja berangkat dari
kemauan untuk melestarika budaya atau kerajinan tangan masyarakat asli Papua.
Pertahanan budaya khas dalam proses pembangunan baik dari sisi rajut,
anyam, nyulam termasuk di sini adalah
pertahanan bahan baku lokal. Dari sini pertahanan budaya perlu diangkat lebih
tinggi lagi sebagai warisan dunia. Dalam soal ini yang perlu diperhatikan
adalah hidupnya komunitas noken di tengah terpaan arus globalisasi dan ekonomi
pasar yang menerpa dunia saat ini. Noken dengan segalah makna yang menyertainya
menjadi daya tahan menghadapi berbagai terpaan termasuk krisis ekologi.
Suatu yang tak bisa dipungkiri adalah Jaminan keberlanjutan berbasiskan
peradaban atau kecerdasan masyarakat lokal kepada masyarakat dan komunitas kebudayaan dunia. Tak kalah penting
adalah pengembangan Ilmu pengetahuan yang berpijak dari tradisi adat budaya.
Hari Noken
Sejak diakuinya Noken sebagai warisan dunia, sejak itu masyarakat Papua
merayakannya sebagai hari Noken.
Perayaan ini bukan sekadar peringatan biasa, melainkan mengandung pesan akan
suatu pewarisan nilai-nilai budaya yang terus menerus dihidupkan.
Serangkaian kegiatan menyertai perayaan Hari Noken, seperti pameran,
diskusi dan workshop. Walau secara kasat mata harapan perayaan noken belum
maksimal terjawab, tetap saja dalam perayaan ini masyarakat begitu antusias
memperbincangkan dan beberapa komunitas Noken ikut serta dalam setiap kegiatan.
Terkesan dari beberapa kali ikut dalam perayaan Hari Noken, nampak bahwa
antusias dari mama-mama Noken begitu tinggi. Pameran atau apa pun bentuk-bentuk
kegiatan tidak sekedar pertunjukan biasa, melainkan membawa suatu pesan lain
dari kehidupan yang serba lokalitas kiranya menjadi suatu yang terkoneksi
secara lebih baik. Apakah disana juga mengandung harapan akan masa depan
ekonomi mama-mama pembuat Noken, sepertinya perlu terus dicari jawaban.
Perayaan Hari Noken pada gilirannya adalah perayaan hari kebudayaan
orang asli Papua. Sebagaimana diuraikan sebelumnya tentang warisan budaya
leluhur orang asli Papua dan komunitas kebudayaan dunia, perayaan ini perlu
mendapat perhatian dan simpati semua kalangan.
Pertama, perayaan Hari Noken ditujukan untuk terus memaknai bahwa hasil
kerajinan tangan masyatakat Papua diakui oleh Unesco sebagai warisan budaya tak
benda, atau warisan dunia yang puncaknya terjadi pada tanggal 4 Desember 2012
di kantor pusat Unesco.
Kedua, memberikan tempat yang
tepat akan sebuah pengakuan bahwa di tanah Papua kecerdasasan atau peradaban yang dilahirkan atau terlahir
dari seorang perempuan. Ketiga, menyampaikan suatu bentuk sosialisasi kepada
publik bahwa di tanah Papua ada satu karya budaya yang luhur dan dilindungi dan
dikembangkan dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya tanpa dilupakan.
Keempat, dengan hari noken memnggingatkan kita bahwa manusia adalah
manusia berbudaya, beradab dan beretika dalam kehidupan sehari-hari. Euforia
atau peringatan yang menyemangati generasi penerus dari waktu atau dari masa ke
masa bahwa Noken adalah warisan leluhur yang dilestarikan.
Kelima, pada sisi lain memperingati untuk menghidupkan gerakan Noken
Papua warisan dunia supaya melindungi bahan baku, melindungi noken yang sudah
turun temurun dan mengembangkan sanggar-sanggar, menggali nilai-nilai makna
fislosofi atas noken kehidupan itu sendiri.
Keenam, sebagai ajang kreativitas menggali ilmu noken, menemukan bakat
diri dalam rajut dan menganyam berlandaskan budaya sebagai suatu bentuk
kearifan lokal secara papuani.
Noken Masa Depan
Noken yang ditransmisikan melalui hasil karya dari daya cipta dan daya
karya manusia dapat dapat dinilai dan diakui untuk menyelamatkan dan meneruskan
budaya tak benda “Noken” secara berkelanjutan. Hal ini adalah konsekuensi dari
upaya menyelamatkan budaya noken melalui perajin, penggemar, juga pengguna dan
pemilik Noken.
Upaya memperkenalkan Noken menjadi hal yang penting untuk pelestarian
yang akan datang. Bukan satu yang berlebihan jika dalam konteks ini manusia
Papua diperankan menjadi subyek dalam hal promosi mata budaya Noken ke depan. Dalam
soal-soal semacam ini, kemitraan harus menghidupkan unsur kebudayaan yang
dinilai terpendam di Tanah Papua.
Hal pertama yang mesti dihidupkan adalah kembali mencintai dan
menyelamatkan alam semesta lingkungan sekitarnya. Sebab alam baku ada di
sekitar alam lingkungan masyarakat. Kalau kita selamatkan bahan baku maka kita
melakukan penguatan terhadap komunitas Noken, termasuk dalam diri dan keluarga yang menjadi tumpuan
pijakan budaya itu sendiri
Perlu dipikirkan adanya pendidikan Noken rajut dan anyam kepada
anak-anak sejak usia dini. Pewarisan nilai atau makna diturunkan dalam bentuk
kreativitas dalam membangkitkan kreativitas generasi penerus dalam
menghilangkan nilai dan makna itu sendiri.
Terakhir, bagaimana kehadiran para pengrajin Noken menjawabi persoalan
ekonomi pada kehidupan sehari-hari. Hal ini perlu menjadi prioritas yang
terintegrasi dengan perencanaan pembangunan daerah. Bagaimana promosi dan
penyiapan pasar untuk membangkitkan ekonomo dari Mama-mama Noken. Hal ini sudah
seringkali dibicarakan namun belum terlaksana dengan baik.
Titus Pekei, Budayawan dan Peneliti Noken

Tidak ada komentar