BreakingNews

Warga Terlantar, Tiga Wartawan di Maumere Buktikan “Meliput Sambil Bantu Korban”

Ketiga warga asal Pemalang, Jawa Tengah saat berada di Dinas Sosial Kabupaten Sikka untuk dipulangkan ke kampung halaman. (foto : Ebed de Rosary)

JURNALTIMUR,COM,- Tugas wartawan adalah meliput dan memberitakan. Namun tugas yang diemban itu tidak membuat wartawan meninggalkan sisi empati untuk terlibat langsung membantu korban saat menjalankan liputan.


Dalam jurnalistik selalu punya cerita soal empati. Selalu saja dipertanyakan, saat melihat sebuah musibah atau kecelakaan di depan mata, apa yang seharusnya dilakukan seorang wartawan? Apakah lebih mendahulukan hati nuraninya menolong korban, atau meliput peristiwa tersebut?


Pertanyaan itu pun berlanjut pada cerita seorang fotografer bernama Kevin Carter yang  dicaki-maki banyak orang lantaran ia memotret seorang anak penderita busung lapar di Sudan dalam kondisi sekarat. 


Pada saat sekarat itu, si anak sudah diintai burung pemakan bangkai (burung condor) yang hinggap di belakang si bocah. Nah, foto hasil jepretan Carter itu lantas menang dalam kompetisi penghargaan foto Pulitzer tahun 1994.


Tapi apa yang terjadi setelah itu, Kevin dikecam banyak orang karena dianggap tidak berempati terhadap si bocah. Dia hanya mengambil gambar, lalu pergi.


Berbeda dengan Kevin, tiga wartawan di Maumere-Flores, Yunus Atabara (Harian Victory News),  John da Gomez  (Fokus Nusa Tenggara) dan Ebed de Rosary (Cendana News) justru memilih cara mereka sendiri untuk membantu korban, sambil terus membuat berita untuk diketahui publik.


Wartawan Cendananews, Ebed de Rosary dalam beritanya di Cendana News, Kamis (2/2/2017).memberitakan kejadian itu. Saat ketiganya meliput di Pelabuhan Lorens Say Maumere, Kamis (2/2/2017), mereka mendapatkan ketiga perantau asal Pemalang-Jawa Tengah yang terlantar duduk di depan Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Laurens Say Maumere. 


Tiga warga asal Desa Jebet, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, masing-masing Mulyadi (46), Budiharjo (50), dan Fajar Suryadi (20). Sejak pagi  sekitar pukul 08.00 WITA hingga sekitar pukul 13.00 WITA, ketiga perantau ini tidak tahu hendak mau kemana. 


Ketiga warga perantau ini mengaku sedang menunggu Staf  KSOP Laurens Say, yang memintanya menunggu untuk bertemu pimpinan Staf KSOP, agar bisa membantu kesulitannya.


 “Kami sejak pagi pergi dari rumah teman kami, karena sudah tidak tahan, karena tidak ada pekerjaan dan ingin kembali ke kampung, namun tidak ada biaya,” ujar Mulyadi, Kamis (2/2/2017).


Saat ditanya ketiganya mengaku sejak pagi belum makan dan hanya berjalan kaki dari rumah kontrakan teman menuju Pelabuhan Laurens Say Maumere.


“Dari pagi kami cuma makan roti sepotong untuk menahan lapar, sebab tidak memiliki uang untuk membeli makanan,” tambah Budiharjo.


Mendengar keadaan ini, ketiga wartawan ini pun menawarkan bantuan untuk mengantar ke  ke Polres Sikka dan Kantor Dinas Sosial agar bisa dicarikan solusinya. Dengan menunmpang ojek, bersama wartawan mereka pun pergi kantor Dinas Sosial. 

Kepala Dinas Sosial, Moni Emi Lusia Laka, SH., dan Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, Antonius R da Cinha, yang menemui ketiganya pun menanyakan penyebab mereka terdampar di Maumere.


“Kami bertiga dibawa teman sekampung untuk bekerja mengupas kelapa di Flores dan dijanjikan upah lima belas ribu rupiah untuk seratus buah kelapa yang dikupas,” terang Mulyadi.


Sebelum tiba di Maumere, ketiganya bekerja di Ndori, Kabupaten Ende, selama sebulan dan setelah itu dibawa ke Maumere untuk melakukan pekerjaan yang sama. Namun, ketiganya lebih banyak menganggur, karena kelapa yang dikupas tidak tersedia.


“Setiap hari kami hanya diberi makan nasi dan mi selama dua kali dan hanya dibayar lima ratus ribu rupiah, namun uangnya kami sudah kirim kepada keluarga di kampung,” sebutnya.


Karena tidak tahan, sambung Budiharjo, ketiganya ingin kembali ke kampung, meski tidak mempunyai uang sepeser pun. Sementara, ketiga teman lainnya memilih bertahan menetap di Maumere di rumah kontrakan teman yang membawa mereka.


Tonce, sapaan Kabid Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sikka, pun meminta wartawan mengantar ketiganya mengurus surat bagi orang terlantar di Kantor Polsek Alok, agar bisa dibiayai Dinas Sosial hingga kembali ke kampung.


“Ketiganya akan kami urus untuk kembali ke kampung halaman, dan kami berharap agar warga yang ingin merantau harus benar-benar tahu pasti pekerjaan dan orang yang mempekerjakan mereka,” tuturnya.


Ditambahkan Tonce, bila ketiganya bekerja di perusahaan, maka pihaknya akan meminta tanggung-jawab perusahaan. Namun, ketiganya mengaku bekerja pada perorangan dan tidak mengetahui alamat rumah temannya, sehingga kami akan memulangkannya ke kampung asal.


“Ketiganya pun ingin pulang ke kampung halaman, karena sudah tidak tahan akibat menganggur di Maumere dan tidak memiliki keluarga di sini,” paparnya.


Sementara itu, Yunus Atabara, wartawan Victory News, mengatakan, kasihan setelah mengetahui ketiganya tidak mempunyai uang dan ingin kembali ke Pemalang, sehingga dibawa ke Dinas Sosial dan mengurus surat ke Polsek Alok.



“Sejak pagi kami sudah melihat mereka duduk di depan Kantor KSOP Laurens Say, namun kami pikir mereka hendak mengurus surat pelayaran. Namun saat ditanyai dan dikatakan ingin meminta bantuan kami bawa ketiganya ke Dinas Sosial,” pungkasnya. (*Ebed/Ben)

Tidak ada komentar