BreakingNews

Sengketa Pilkada Tak Bertanggung Jawab, Nyawa Manusia Berujung Kematian

Oleh Krismas Bagau

Sebagai putra daerah yang sedang mengenyam pendidikan pasca sarjana dengan konsentrasi pendidikan pemerintahan daerah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, saya  mengamati dan menganalisa Pilkada Intan Jaya  yang baru berlangsung 15 Februari 2017 yang membawa dampak hingga hari ini.  


Krismas Bagau
Boleh dikata bahwa Pilkada di Intan Jaya harus berakhir dalam keheningan  yang luar biasa setelah melewati duka nestapa atas berbagai  serangan yang terkordinir dan terstruktur yang berlangsung beberapa hari setelah berlangsungnya hari pemilihan.


Banyak orang sungguh-sungguh menjadi korban yang luar biasa.  Nyawa manusia hilang sia-sia, dipertaruhkan atas nama pilkada yang tak jelas jenis kelaminya itu. Harta benda yang diperjuangkan sepanjang hidup pun hilang  dalam waktu singkat.


Pilkada yang akhirnya menyertai juga dengan mobilisasi massa dari kedua paslon yang luar biasa pula yang tak bisa terhitung jumlahnya itu,  hanya menghasilkan dendam , kebencian dan amarah. Demikian juga, duka  dan nestapa mendalam yang  dialami tentu tak mungkin  disembuhkan dalam waktu yang singkat.  


Benturan dua kelompok massa pendukung calon bupati dan wakil bupati Intan Jaya pada Kamis lalu, 23 Februari 2017 telah menelan banyak korban. Nyawa manusia yang nota bene masyarakat yang tidak tahu sama sekali tentang politik menjadi korban dagangan politik  serius dan sistematis. Ini sebuah serangan yang membabi buta tanpa melihat berapa yang akan menjadi korban dari dagangan politik.


Serangan demi serangan yang dilancarkan sejak fajar terbit sampai fajar terbenam tak menyisahkan ruang sedikit pun untuk belas kasih. Tak tahu lagi politik model  apa yang sedang dipraktikkan  dan demokrasi jenis kelamin apa yang sedang ditiru.


Mereka yang berebut kekuasaan terus  melancarkan kekerasan. Demi kekuasan mereka pun tak segan-segannya memperalat masyarakat kecil.  Sementara masyarakat hanya dijadikan objek yang tunduk pada elit politik yang katanya intelektual itu.


Banyak orang  mengatakan hentikan kekerasan, hentikan serangan, hentikan unsur sara, hentikan emosional politik dan jangan tanamkan pisikologis yang traumatis terhadap masyarakat. Sementara para elit politik duduk mengamati pertandingan serangan.


Rebutlah Secara Demokratis


Jika demokrasi maka rebutlah secara demokrasi dan salurkanlah pada tempatnya. Elit politik yang mengejar kekuasaan, jangan memobilisasi masyarakat kecil yang tak tahu apa-apa atau membuat alasan apa pun demi kepentingan untuk berkuasa. Maukah anda merebut kekuasan dengan kekerasan? Maukah Anda duduk di kursi yang sudah disakiti.


Kita perlu dewasa dalam berpolitik. Bukankah pilkada yang demokrasi telah kita sepakati? Maka  janganlah dinodai. Semua yang telah memilih demokrasi sebagai jalan penyelesaian masalah politik termasuk pemilihan kepala daerah, tentu berharap  semua yang terlibat  baik itu penyelenggara, maupun pasangan calon dan massanya akan mentaati aturan yang telah disepakati.


Namun, melihat situasi yang terjadi di Intan Jaya, rasanya prinsip-prinsip demokrasi itu masih jauh dari yang diharapkan. Demokrasi  yang dipertontonkan jauh menghasilkan keputusan yang adil dan bermartabat apalagi memprioritaskan keselamatan masyarakat kecil.


Hal yang terjadi memperlihatkan demokrai politik pilkada memang  tak ada jenis kelamin yang jelas. Nyawa dan harta kekayaan hilang tak tergantikan. Sementara pemain politik hanya duduk angkuh dan pongga dengan segelas anggur di tanggannya yang sesekali dicicipinya.  


Dengan berlaga sebagai pengamat politik, saya mencoba masuk  ke  arena dan  melihat seluruh peristiwa yang sedang terjadi melalui  dunia berita. Saya pun masuk dan tunduk membaca kejamnya sengeta pilkada  di kabupaten Intan Jaya melalui media.  


Salah satu media yang saya baca adalah: viva.co.id sabtu, 25 februari 2017 | 21:42. Diberitakan banyak orang tewas akibat bentrokan pilkada Intan Jaya – bentrok antar kubu pasangan calon bupati dan wakil bupati yang bertarung dalam pilkada kabupaten Intan Jaya, Papua,  yang terus berlanjut hingga Sabtu 25 Februari.


Korban tewas dikabarkan bertambah menjadi enam orang dan luka-luka terkena panah sekitar 600 orang. situasi rumah-rumah di Sugapa juga banyak kosong karena ditinggalkan penghuninya mengungsi ke tempat lain. ''Rumah-rumah banyak kosong, karena pada takut, kalau tidak dibakar lalu dijarah”.


Tidak ada kosa kata yang mampu tersusun dengan baik menjadi kalimat.  Hal yang terpikirkan adalah masyarakat belum diberikan penjelasan yang memadai tentang pilkada apalagi yang menyangkut tahapan-tahapan pilkada hingga pengumuman pemenang.  Jujur saja bahwa pendidikan politik  masih perlu dipelajari, supaya demokrasi sungguh-sungguh mendarat bukan semata  berujung pada kekuasaan dan uang yang mengorbankan harta kekayaan.


Masyarakat masih perlu mengetahui bahwa subtansi  dari  kontestasi  pesta politik bukanlah ajang debat fisik tetapi pertaruhan konsep pembangunan yang dapat ditawarkan kepada publik. Salah satu strategis yang bisa di lihat untuk merebut simpatik rakyat adalah melihat visi dan misi yang dipaparkan untuk membangun daerah. Perlu adanya konsep dan strategis demi masa depan program yang ditawarkan.


Ini artinya marketing politik yang sehat mestinya dijalankan agar mampu memberi pemahaman yang kontinyu. Membangun masa depan perlu adanya marketing politik yang diperlukan dan ditawarkan di arena pemahaman yang secara terstruktur terutama melalui sosialisasi politik yang dewasa supaya sungguh-sungguh  mendarat dengan baik dan benar.


Para  calon mestinya  memberi kesadaran politik sungguh-sungguh dan secara independen disesuaikan dengan nilai yang ditawarkan. Kekuasan bukanlah abadi sehingga membuat kepentingan mendominasi pelaksanan dengan kekerasan yang akhirnya hanya melahirkan gagasan yang salah dan menghasilkan begitu banyak korban berjatuhan.


Saya pun kembali masuk dan melihat situasi  politik kabupaten Intan Jaya dari media. Kata Kapolda Paulus Waterpauw, belakangan malah melebar dari semula masalah politik menjadi isu konflik suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). "... yakni pemisahan suku Moni dan Dani. Padahal, kedua suku sudah kawin campur dan bersatu berpuluh-puluh tahun," katanya.


Hemat saya, sebenarnya pilkada di Kabupaten Intan Jaya kali ini lahir dari gengsi dan emosional  politik dengan menjadikan isu Sara untuk  memunculkan kekacauan hidup  warga masyarakat yang memang telah hidup damai.


Jika mengejar kekuasan dan uang dengan mengorbankan nyawa orang berarti  kita belum dewasa dan belum siap dalam politik. Kekuasan dan uang bukanlah abadi tetapi nyawa manusialah yang menjadi penting dan berharga. Kita harus belajar bagaimana manusia berharga dari pada ciptaan-Nya yang lain.



Semoga pengalaman tahun ini menjadi pengalaman bagi kami generasi kabupaten Intan Jaya  yang akan bertarung di kanca politik modern ke depan. Kita mesti memetik makna politik tahun ini supaya politik tahun-tahun yang akan datang akan lebih baik dan benar. Sepertinya, tahun ini menjadi tahun tragedi dalam politik demokrasi di negeri ini.

Krismas Bagau, Sedang belajar di Yogyakarta 

Tidak ada komentar