Sekali Lagi tentang HIV-AIDS di Papua
Oleh : Paskalis Kossay
Masalah HIV-AIDS di Tanah Papua sekali lagi perlu diingatkan untuk ditangani secara serius. Di tengah
kegaduhan membicarakan pemilihan kepala daerah (Pilkada), penyakit yang
mematikan seperti HIV-AIDS ini sepertinya tenggalam untuk dibicarakan, padahal
beberapa hari belakangan ini koran lokal di Papua memberitakan tentang masalah
HIV-AIDS. Sedikit berhenti membicarakan Pilkada, kita perlu berbicara juga
tentang HIV-AIDS ini.
Merujuk pada Data Dinas Kesehatan Provinsi
Papua per-30 Juni 2014 menunjukkan angka penyebaran HIV-AIDS mencapai 17.639
kasus terdiri dari 6.579 kasus HIV dan 11.060 kasus AIDS. Dari jumlah tersebut
1.229 orang telah meninggal dunia. Sementara di Provinsi Papua Barat terdapat
1.386 kasus, terdiri dari 743 HIV dan 643 AIDS.
![]() |
| Paskalis Kossay |
Penyakit
yang mematikan ini tersebar begitu cepat di seluruh pelosok wilayah
kabupaten/kota di Tanah Papua. Jika dibandingkan dengan penyebaran secara
nasional dari 42 persen kasus HIV-AIDS di Indonesia sebagian besar berada di Papua.
Hal ini ditunjukan dengan angka prevalensi penularan HIV-AIDS di Papua telah
mencapai 2,4 persen tahun 2007 dan kini mulai menurun 2,3 persen tahun 2013.
Sejumlah
kalangan berpendapat, peningkatan kasus HIV-AIDS di Papua dikarenakan oleh
lemahnya sistem edukasi, dan juga banyaknya pekerja seks komersial yang
kebanyakan masuk dari luar Papua. Demikian pula perilaku pria yang tidak
menggunakan alat pengaman pada saat melakukan hubungan seks bebas. Faktor
pemicu lain juga adalah masalah narkoba.
Dari
data kasus HIV-AIDS sebagaimana tersebut diatas, akhirnya menimbulkan berbagai
opini dan persepsi yang beragam di dalam masyarakat, antara lain dikatakan
penyakit HIV-AIDS, adalah kutukan Tuhan. Tetapi sering juga ada pernyataan
keras bahwa penularan HIV-AIDS sengaja disebarkan oleh pemerintah untuk
memusnahkan etnis Papua. Jika dicermati baik, jumlah 17.639
kasus HIV-AIDS di Papua dan 1.386 kasus HIV-AIDS di Papua Barat sesungguhnya
sangat memprihatinkan. Oleh karena, dibandingkan dengan jumlah penduduk Papua
dan Papua Barat dari kurang lebih 5 juta jiwa, penyakit HIV-AIDS ini
kemungkinan besar sudah menggerogoti setengah dari jumlah penduduk 5 juta jiwa
tersebut.
Memang
tidak mudah diketahui angka pasti, namun pola penyebarannya diibaratkan seperti
teori puncak gunung es, dimana sebagian kecil puncaknya saja kelihatan tetapi
sesungguhnya sebagian besar masih tersembunyi belum bisa diketahui pasti.
Keadaan inilah sering orang Papua bersuara keras, mempersalahkan pihak lain
bahkan sering mempolitisasi keadaan, bahwa penyebaran HIV-AIDS ini sengaja
disebarkan oleh pemerintah Indonesia untuk menghilangkan etnis Papua.
Suara-suara sumbang seperti ini selalu terdengar dimana-mana, dikemas sebagai
isu politik untuk membentuk opini publik dengan tujuan menyudutkan posisi
pemerintah.
Untuk
menyikapi penganggulangan penyebaran HIV-AIDS di Tanah Papua sebenarnya sudah
dan sedang dilakukan berbagai program baik oleh pemerintah sendiri melalui KPAD
maupun lembaga swasta (LSM) lain yang peduli HIV-AIDS. Dana yang disiapkan
dalam rangka penanggulangan HIV-AIDS pun selalu tersedia. Selain itu, bantuan
dari luar negeri juga terus mengalir.
Kita
ketahui bersama bahwa untuk menanggulangi penyebaran HIV-AIDS, secara nasional
pemerintah telah lama membentuk wadah khusus yang menangani penanggulangan
HIV-AIDS ini. Wadah ini disebut Komisi Penanggulangan HIV-AIDS Indonesia.
Sistem kerja serta struktur organisasinya sudah terbentuk sampai ke
daerah-daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di seluruh
Indonesia. Melalui wadah inilah semua bantuan pemerintah maupun bantuan lain
dari lembaga-lembaga donor berupa dana maupun SDM diarahkan demi penanggulangan
penyebaran HIV-AIDS di Indonesia. Namun, pergerakan penanggulangan HIV-AIDS
oleh wadah yang namanya Komisi Penanggulangan HIV-AIDS ini belum begitu membumi
. Buktinya dari waktu ke waktu angka penyebaran HIV-AIDS selalu terus
meningkat.
Di
Provinsi Papua dan Papua Barat sudah terbentuk Komisi Penanggulangan AIDS
daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota seluruh Tanah Papua.
Komisi penanggulangan AIDS daerah tersebut selama ini banyak memiliki program
kerja dalam rangka penanggulangan HIV-AIDS di Tanah Papua. Tetapi program
yang dihasilkan rupanya masih bersifat statis dilakukan secara sporadis dan
parsial hanya untuk kalangan tertentu yang dianggap berpotensi resiko tinggi.
Maka hasilnya pun belum semua penduduk Papua bisa menyadari bahaya akan
HIV-AIDS sehingga terbukti angka penyebaran HIV AIDS di tanah Papua dari waktu
ke waktu selalu meningkat tajam.
Mencermati
program kerja Komisi Penanggulangan HIV-AIDS daerah Papua dan Papua Barat yang
masih bersifat monoton dan parsial tadi, maka dipandang perlu adanya sebuah
gerakan moral yang mesti datang dari semua komponen masyarakat Papua. Gerakan
moral sebagaimana dimaksud harus digerakan secara terus menerus selama 1-2
tahun dengan melibatkan partisipasi seluruh komponen masyarakat
Papua.
Gerakan
ini disuarakan melalui berbagai media yang tersedia, secara teknis dipadukan
dalam program kerja Komisi Penanggulangan AIDS Daerah. Untuk menggerakan
gerakan moral ini perlu disiapkan tenaga relawan khusus, mereka bertindak
sebagai penggerak terhadap tema-tema kampanye penanggulangan HIV-AIDS yang
telah disiapkan KPAD untuk disosialisasikan ke seluruh daerah kabupaten/kota.
Para relawan atau penggerak tersebut dibekali sedemikian rupa, lalu
diterjunkan pada daerah-daerah yang dipandang lebih strategis dan berisiko
tinggi, seperti di Kota Jayapura, Kota Wamena, Kota Merauke, Kota Timika, Kota
Nabire, Kota Manokwari dan Kota Sorong.
Pada
posisi simpul ini, kota-kota strategis tersebut para relawan akan mulai
bergerak melakukan kampanye penanggulangan HIV-AIDS dengan berbagai metode
kepada semua lapisan masyarakat, entah datang kepada masyarakat kampung,
masyarakat pemuda, masyarakat mahasiswa, kalangan pegawai negeri, kalangan ibu
rumah tangga, dan lain-lain yang sekiranya dianggap berpotensi resiko tinggi.
Gerakan ini harus digulirkan mulai tahun ini semata-mata untuk segera mungkin
menyelamatkan manusia Papua dari ancaman kepunahan yang jumlahnya tidak lebih
dari 0,1 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Jika tidak segera
dilakukan dengan gerakan moral seperti ini, dikhawatirkan antara 25-30 tahun ke
depan populasi etnis Papua bisa hilang. Dan hal ini sudah diprediksi oleh
sebagian pemerhati masalah-masalah kemanusiaan.
Kita perlu optimis bahwa partisipasi masyarakat dalam
menanggulangi HIV-AIDS ini akan sangat tinggi, sebagaimana partisipasi yang
ditunjukan dalam pilkada. Asalkan harus adanya pemicu dengan berbagai cara
sehingga dari ketidaksadaran, menuju kesadaran dan kemudian menjadi gerakan
bersama. Bagaimana pun kesadaran untuk mememerangi termasuk melindungi mereka
yang sudah terkena adalah pintu masuk yang baik menyelamatkan kehidupan ini.
Psakalis Kossay, Politisi Papua

Tidak ada komentar