Orang Muda Flotim Tolak Isu Primordial dalam Pilkada
JURNALTMUR.COM,-
Banyak strategi dan cara setiap pasangan calon pilkada untuk menang. Akan tetapi menempuh cara dengan menghembuskan isu primordial dan
mendiskreditkan lawan politik hanya karena berasal dari kampung dan suku
tertentu tidak dapat dibenarkan
karena hanya menghasilkan pilkada yang tidak bermutu.
Jelang pilkada serentak 15 Februari 2017, di Kabupaten Flores
Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur yang juga
ikut dalam pilkada ini, semakin ramai isu-isu primordial yang dihembuskan. Tidak
saja melalui media sosial, saling pengaruh untuk tidak memilih pasangan
tertentu karena berasal dari kelompok tertentu, atau mengajak masyarakat untuk
memilih kandidat tertentu karena berasal dari kampung yang sama mulai santer
terdengar.
Selama empat hari berturut-turut, JurnalTimur mengamati
perkembangan isu primodial di Facebook terkhusus di sebuah Groups SUARA Flotim.
Dari amatan, sangat terbaca beberapa postingan mulai menyudutkan lawan politik
berdasarkan isu-isu primordial.
![]() |
| Ilustrasi |
Terkonfirmasi dengan beberapa sumber di Flores Timur, JurnalTimur menemukan tidak saja hanya dalam media sosial, beberapa warga pun mulai
diajak untuk memilih pasangan calon berdasarkan isu primordial.
Kendati demikian, dari kalangan anak muda yang diamati,
ternyata sangat tidak terpengaruh dengan isu-isu primordial. Sebut saja, satu
postingan yang bernuansa primordial langsung ditanggapi bahkan ditentang oleh
mereka yang terlibat di dalamnya.
Orang muda umumnya menolak isu primordial untuk
dijadikan alasan dalam memilih. Bahkan beberapa postingan menyebutkan bahwa
primordial sering menjadi penghambat kemajuan kabupaten ini.
Tarsisius Tadon Adonara, misalnya, dalam komentar di salah satu
postingan menyayangkan penggunaan isu
primordial. Menurutnya isu primordial ini sebagai bentuk fitnah dan curiga yang masih
tertanam dalam hati dan pikiran masyarakat. Ia justru sedih dengan fenomena
saling curiga ini.
“Astaga kapan Flotim bisa maju kalau budaya fitnah dan
curiga terus melekat dalam hati, pikiran dan lidah kita seperti ini?
Menyedihkan memang, apa tidak ada senjata lain lagikah Bro?,” tulisnya.
Hampir sama dengan Tarsisus, akun Yanny
Fernandez justru melihat sebaran isu primordialisme ini sebagai bentuk ketakutan pasangan tertentu kepada
pasangan lain yang dinilai popularitas yang tinggi.
Ia menilai isu
primordialisme adalah bentuk pembodohan masyarakat. “Selalu saja sebarkan
fitnah yang membodohi masyarakat. Marilah berdemokrasi yang matang jangan asal
fitnah, siapapun bupati yang terpilih nanti adalah pilihan masyarakat Flotim,”
tulisnya.
Fajar Ramadan menuliskan,
masa-masa menjelang pemilukada adalah
saat yang baik untuk para kandidat memberikan pemahaman yang positif kepada
masyarakat dan bukan mengandalkan isu primordialisme.
Ia mengajak agar para
timses yang menyebarkan fitnah segera beralih untuk memberikan pemahaman
politik yang positif.
“Sekarang masyarakat sudah tau berpolitik; mana yang baik
dan salah. Jadi berilah pemahaman politik yang baik kepada masyarakat,”
tulisnya.
Hal yang diungkapkan Tarisius, Fajar Ramadan dan Yanny
Fernadez juga diungkapkan peserta diskusi yang lain dalam groups facebook
itu.
Iwan Puken, salah satu orang muda penggiat media sosial Bereun yang dihubungi JurnalTimur, Jumat (3/2/2017) mengatakan isu primordialisme
bertolak belakang dengan sistem demokrasi Pancasila yang dianut negara ini.
“Anda boleh saja punya seribu pengertian tentang demokrasi,
tapi jika Anda gagal memahami Pancasila sebagai model demokrasi kita, maka sebaiknya
Anda berhenti berpolitik!”, katanya.
Dia menambahkan bahwa hal yang diperlukan adalah merawat pluralisme
dengan semangat persatuan. bukan malah terjebak dalam primordialisme sempit yang
justru meruntuhkan tatanan demokrasi.
“Pemilu yang bersih, jujur dan adil merupakan cara untuk
merawat pluralisme itu,” ujarnya.
Tak hanya berkomentar seputar isu-isu primordial, dalam amatan JurnalTimur pada beberapa media sosial yang meramaiakan pilkada Flotim, juga mulai dipersoalkan hadirnya akun palsu.
Banyak yang berharap dalam berpolitik dibiasakan menggunakan identitas asli sehingga orang belajar bertanggungjawab atas pendapatnya dan belajar untuk memperbaiki kesalahan setelah mendapatkan komentar.
Pilkada Flotim kali ini memang menarik untuk diamati karena tampilnya orang-orang muda untuk berpartisipasi dalam pendidikan politik
warga baik melalui partai politik, tim sukses atau simpatisan. . Seiring dengan kemajuan di bidang teknologi, terlihat banyak
kreativitas yang dihasilkan oleh orang muda dalam pilkada kali ini.
Warna baru perpolitikan ini tentu perlu mendapat apresiasi
dan dorongan agar tidak saja pada saat pilkada ini, melainkan diharapkan berkembang dalam program
pembangunan dan pemberdayaan lima tahun ke depan.
Hanya saja untuk para calon yang ikut dalam pilkada kali ini, masih diharapkan memiliki kontrol yang
jelas terhadap tim suksesnya sehingga pendapat-pendapat yang beredar luas dapat membawa
masyarakat pada titik terang, calon mana yang layak dipilih untuk Flotim ke
depan.
Karena itu, catatan untuk para calon juga pengurus koalisi yang mendukung calon untuk tidak membiarkan simpatisan bermain dalam rana
primordiali, atau terlibat dalam mendukung adanya akun-akun palsu yang ditugaskan untuk mendiskreditkan lawan politik juga cara membentuk opini publik.
Sebab kalau hal ini dibiarkan
maka sebenarnya dapat diduga calon yang bersangkutan mempertontonkan politik primordial dari sekarang dan akan berlanjut jika dia terpilih nantinya. Masyarakat perlu lebih kritis dalam hal ini. (Ben)

Tidak ada komentar