Kejar Ketertinggalan, Kota-kota di Indonesia Timur Mulai Tunjukkan Perbaikan Tata Kelola
![]() |
| Ilustrasi |
JURNALTIMUR.COM,- Studi Tata Kelola Ekonomi Daerah (TKED) yang
dilakukan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) sepanjang 2016 menunjukkan
enam dari sepuluh kota dengan tata kelola ekonomi terbaik berada
di Indonesia bagian timur. Studi ini pun menunjukkan, tata kelola telah mulai
dijadikan instrumen dalam membangun daya saing dan pembentukan iklim investasi
yang kondusif.
Direktur Eksekutif KPPOD Robert Na Endi Jaweng mengatakan,
studi TKED 2016 telah memperlihatkan bahwa peningkatan kinerja tata kelola
tidak lagi didominasi daerah-daerah di Indonesia Barat. "Daerah-daerah di
belahan tengah dan timur mulai menunjukkan perbaikan tata kelola dan mengejar
ketertinggalan," ujar Endi di Jakarta, Selasa (31/1).
Dalam susunan peringkat TKED 2016, mulai muncul kota-kota di
wilayah timur Indonesia dan berskala ekonomi sedang atau menengah pada susunan
peringkat 10 besar terbaik. Adapun sepuluh peringkat ibukota provinsi dengan
tata kelola terbaik antara lain Pontianak, Gorontalo, Semarang, Samarinda,
Palu, Makassar, Banda Aceh, Kendari, Manado, dan Ambon.
Enam kota tersebut antara lain Ambon, Manado, Kendari, Palu,
Makassar, Samarinda,dan Gorontalo. Sementara, empat kota dengan tata ekonomi
terbaik lainnya adalah Pontianak, Banda Aceh, Kendari, dan Semarang. Adapun
Pontianak terpilih menjadi kota paling baik di antara sembilan lainnya.
Ada 10 indikator dalam penilaian tata kelola ekonomi oleh
KPPOD ini. Indikator tersebut antara lain perizinan usaha, ketenagakerjaan,
biaya transaksi, akses dan kepastian hukum, interaksi pemerintah daerah dengan
pelaku usaha, program pengembangan usaha swasta, kapasitas dan integritas
kepala daerah, infrastruktur daerah, keamanan dan resolusi konflik, serta
kualitas peraturan daerah.
Pontianak, dinilai unggul terutama pada variabel kualitas
infrastruktur dan kapasitas serta integritas kepala daerah. Berbanding terbalik
dengan Pontianak, Medan menempati posisi paling bawah sebagai kota dengan
hampir seluruh variabel tata ekonominya buruk.
Direktur Eksekutif KPPOD, Robert Na Endi Jaweng mengatakan,
bahwa inovasi yang dilakukan pemerintah daerah menjadi faktor kunci dalam
perbaikan tata kelola di daerah Indonesia Timur.
Pemerintah Gorontalo misalnya, mendapat penilaian terbaik
dalam program pengembangan usaha swasta. Salah satu inovasi yang dilakukan
adalah dengan pengembangan klaster komoditas unggulan UMKM hingga tingkat
kecamatan lewat program Kawasan Ekonomi Kecamatan (KEK).
Ada juga Palu yang ternyata bersih dari pungutan liar atau
retribusi pemerintah daerah yang memberatkan pelaku usaha. Dijelaskan Robert
dalam ANTARA, di Palu, bukan hanya bebas dari pungutan informal, pelaku
usahanya juga secara korporatif tidak merasa keberatan terhadap biaya pajak,
retribusi, dan donasi Pemda yang sifatnya resmi.
Begitu pula Makassar yang cukup baik dalam menata
ekonominya, terutama dalam interaksi antara pemerintahnya dengan pelaku usaha.
Di Makassar, pemerintah daerahnya mengembangkan program Smart City (kota
pintar) dan forum komunikasi rutin bulanan dengan pelaku usaha.
Namun, prestasi kota-kota di Sulawesi itu ternyata jauh
dibandingkan kota-kota besar di Jawa seperti Bandung dan Surabaya. Bandung
berada di peringkat 16, sementara Surabaya di peringkat 27 dari 32 kota yang
dinilai. Sementara Jakarta tidak masuk penilaian karena merupakan ibu kota
Negara.
Studi TKED 2016 sendiri bertujuan untuk memberikan gambaran
kualitas tata kelola ekonomi di 32 daerah non-ibukota di Indonesia. Gambaran
kualitas diukur berdasarkan sejumlah variabel pilihan yang menjadi domain
kewenangan pemerintah daerah dan berbasis kebutuhan dunia usaha.
Robert menyarankan, strategi perbaikan iklim
investasi dan daya saing daerah dapat dimulai dengan meningkatkan tata kelola,
dan juga perluasan reformasi, khususnya reformasi regulasi, kelembagaan, dan
pelayanan usaha di bidang ekonomi. (*)
Sumber :
beritagar.id
katadata.co.id
ekonomi.warta10.com

Tidak ada komentar