BreakingNews

Slogan Mengenai Orang Muda

Oleh : Y. Hegon Kelen Kedati 


Ada sesuatu yang bisa dikatakan baru dalam perhelatan Pemilihan Umum Kepala Daerah (PILKADA) Kabupaten Flores Timur kali ini. Hal itu adalah munculnya program yang memberikan perhatian yang khusus pada orang muda. Program ini dirancang untuk orang muda dalam rangka membangun sumber daya manusia untuk membangun Flores Timur ke depan. 


Y. Hegon Kelen Kedati
Akhir-akhir ini, bisa dikatakan, setidaknya, ada dua slogan politik yang berkembang di tengah masyarakat. Pertama adalah “Orang Muda, Selamatkan Flores Timur!”. Yang kedua adalah “Selamatkan Orang Muda Flores Timur!”. Tulisan ini hendak mengkaji arti terdalam dari dua slogan politik ini. Apa maksud terdalam dari kedua slogan ini? Apa-apa saja tendensi paket yang mengusung slogan-slogan tersebut?


Dua slogan di atas adalah bentuk kalimat perintah. Dua slogan tersebut memuat perintah untuk “selamatkan”. Yang satu, “(Orang Muda), Selamatkan Flores Timur” dan yang satu lagi adalah “Selamatkan Orang Muda Flores Timur”.


Sebagai kalimat perintah, setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, subjek perintah tersebut ditujukan, kepada siapa atau kepada pihak mana. Yang kedua adalah isi pesan harus jelas agar perintah yang disampaikan dapat dipahami dan dilaksanakan dengan tepat oleh subjek yang mendapat perintah. 


Slogan, “Orang Muda, selamatkan Flores Timur!”, memuat perintah kepada orang muda untuk “selamatkan” Flores Timur. Dalam Slogan, “Selamatkan Orang Muda Flores Timur”, memang tidak termuat eksplisit kepada siapa slogan ini dituju. Namun, secara implisit, dalam slogan ini termuat perintah atau ajakan untuk siapa saja untuk “selamatkan” Orang Muda Flores Timur.


Mengenai isi perintah, dalam slogan “(Orang Muda), Selamatkan Flores Timur!”, isi perintahnya kepada orang muda adalah “selamatkan” Flores Timur. Apakah isi pesan dari slogan ini jelas perintahnya? 


Ketika mendengar slogan ini, pikiran kita tertuju pada apa itu Flores Timur. Frasa Flores Timur ini menunjuk pada hal apa? Dapatkah kita menunjuk secara pasti dan tepat sesuatu yang bernama Flores Timur tersebut? Apakah Flores Timur yang dimaksud adalah wilayah yang terdapat di daerah bagian timur Flores ataukah menunjuk pada Kabupaten Flores Timur? Apabila menunjuk pada Kabupaten Flores Timur, hal-hal apa yang ada di Kabupaten Flores Timur yang hendak diselamatkan? 


Cukup banyak hal; bisa jadi pemerintahannya, birokrasinya, ekonomi masyarakatnya, atau hal-hal lain yang masih berhubungan dengan Kabupaten Flores Timur. Slogan ini, sebagai sebuah perintah ambigu karena memuat banyak sekali unsur yang tidak terurai dan ditunjuk dengan jelas dari kata Flores Timur itu sendiri. 


Slogan ini memuat perintah yang tidak jelas dan tidak tegas karena menunjuk pada hal yang cukup luas. Berbeda dengan isi perintah dalam slogan, “Selamatkan Orang Muda Flores Timur” yang jelas untuk selamatkan orang muda Flores Timur. 


Ketika kita menunjuk orang muda Flores Timur kita dapat dengan jelas dan pasti menunjuk pada, Si Djuan, Si Maria, Si Kewa, Si Suban yang menjadi anggota dalam himpunan orang muda Flores Timur. Sebagai kalimat perintah, slogan “Selamatkan Orang Muda Flores Timur” memuat isi perintah yang jelas dan lugas.


Di balik slogan, “Orang Muda, Selamatkan Flores Timur” terindikasi ada arogansi terselubung dari paket yang mengusung slogan ini . Orang Muda dianggap sebagai satu-satunya pihak yang mampu selamatkan Flores Timur. Pertanyaannya adalah apakah hanya orang muda yang mampu selamatkan Flores Timur? 


Kita tidak sedang menafikan atau mengabaikan peran orang muda dan potensi kekuatan revolusioner dari orang-orang muda. Namun, terlalu arogan apabila, slogan ini menyerukan misi penyelamatan Flores Timur hanya disematkan pada orang muda. Slogan ini mengimpikasikan bahwa Flores Timur hanya bisa di-selamatkan jika dan hanya jika itu dilakukan oleh orang muda. 


Arogansi ini menunjukan keangkuhan pengusung slogan ini. Apalagi “jualan” paket ini adalah pemimpin muda, tokoh muda atau lain sebagainya yang menunjukan mereka adalah orang muda berprestasi. Arogansi orang muda atau tokoh muda menunjukan sebuah keangkuhan orang muda, sosok muda atau tokoh muda yang mengusung slogan, “Orang Muda, Selamatkan Flores Timur”. 


Mereka menganggap hanya mereka yang bisa menyelesaikan permasalahan yang ada di Flores Timur.
Sebagai sebuah gambaran, dalam tradisi perang Lamaholot, orang muda yang turun ke medan perang dan orang tua duduk menjaga sekaligus memberi kekuatan dari dalam Rumah Adat. 


Orang muda dan orang tua punya peranan masing-masing dalam memenangkan perang. Memang orang muda yang turun berperang di medan pertempuran, tapi orang muda lamaholot tidak serta-merta mengklaim bahwa mereka lah satu-satunya pihak yang bekerja memenangkan perang. 


Dalam tradisi lamaholot ini, tendesi arogan orang muda tidak terlihat di sini, karena orang muda menyadari bahwa mereka dapat memainkan peranan mereka di tengah medan pertempuan sebagai prajurit dalam rangkaian kerjasama dan pembagian peran dengan orang tua.


Berbeda dari slogan, “Orang Muda, selamatkan Flores Timur”, slogan, “Selamatkan Orang Muda Flores Timur”, mengajak semua orang untuk selamatkan orang muda Flores Timur. Pembaca yang mengikuti perkembangan pilkada Flores Timur tentu tahu, paket mana yang menyerukan slogan ini. Pasangan calon paket ini juga merupakan orang muda namun, dalam slogan, “selamatkan orang muda Flores Timur” tidak ada sama sekali tendensi arogan yang tersurat maupun tersirat. 


Slogan “Selamatkan Orang Muda Flores Timur!” yang diusung paket ini, mengajak partisipasi semua orang agar dapat ikut dalam usaha “selamatkan” orang muda. Usaha “selamatkan” orang muda dijadikan tanggungjawab bersama dari orang tua dan orang muda. 


Dalam slogan, “Selamatkan Orang Muda Flores Timur” diharapkan terangkai kerjasama antara orang muda dan orang tua untuk dapat mensukseskan misi “selamatkan” orang muda. Ada pertanyaan yang muncul, selamatkan orang muda Flores Timur dari apa? Berkaitan dengan hal ini, tidak dikupas dalam tulisan ini. Mungkin akan diurai dalam tulisan yang lain.


Lebih jauh sekedar mengkaji slogan di atas sebagai kalimat perintah, kita dapat masuk lebih dalam lagi dari dimensi “selamatkan”. Pertanyaan yang dapat kita ajukan adalah, apakah hal mendasar yang harus kita “selamatkan”? 


Hal mendasar yang perlu di-“selamatkan” adalah mahluk hidup (manusia, hewan dan tumbuhan) hal-hal yang menyangkut kelestarian kehidupan itu sendiri. Di sinilah, “selamatkan” menjadi sebuah visi ekologis. Ekologis adalah soal antropologis dan teologis. Oleh karena itu, ketika berbicara tentang “ekologi”, kita mengacu pada suatu relasi yang khusus, yaitu antara alam dan masyarakat yang menghuninya.

 Manusia adalah bagian dari alam, termasuk di dalamnya, dan terjalin dengannya. Seruan “selamatkan” dapat dilihat sebagai sebuah tanggung jawab pada masa depan, sebuah desakan akan perlunya suatu kualitas baru kehidupan, dan kewajiban mengindahkannya dalam merencanakan pengembangan. Dalam semangat inilah rakyat digerakan untuk pembangunan. 


Berkaitan dengan ini, seruan “selamatkan” berdimensi ekologis setidaknya mengandung 3 hal yang mendasar antara lain: Pertama, manusia tidak boleh menggunakan alam atau makhluk ciptaan sesuka hatinya. Alam dan makhluk ciptaan punya nilai pada dirinya sendiri. Kedua, sumber-sumber alam itu terbatas, manusia harus mengendalikan diri dan bertanggungjawab atas generasi yang akan datang. Ketiga, pembangunan harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup dalam hal ini termasuk alam yang sehat dan menyehatkan.


Persis dalam konteks dan semangat tersebut di atas, paket yang mengusung slogan, “Selamatkan Orang Muda” menempatkan slogan ini dalam kesejajaran dengan slogan lainnya yaitu: “Selamatkan Tanaman Rakyat”, “Selamatkan Laut Flores Timur” dan “Selamatkan Infrastruktur” dalam satu kesatuan program yang sistematis dan komprehensif.


 Dimensi ekologis dalam seruan “selamatkan” yang dihembuskan oleh paket ini justru menjadikan slogan-slogan di atas sebagai “bahasa” yang mudah diingat dan dimengerti bahkan oleh orang-orang kecil. Slogan-slogan tersebut menjadi berarti karena ada keterhubungan dengan slogan lainnya dengan membawa dimensi ekologi.


Dengan demikian, kita dapat memahami, slogan “Selamatkan Orang Muda” tidak hanya menjadi jargon murahan seperti “Orang Muda, Selamatkan Flores Timur”. Paket yang menyerukan slogan, “Orang Muda, Selamatkan Flores Timur” rasa-rasanya menyeruakan slogan ini tanpa ada visi yang jelas dalam keterhubungannya yang menyeluruh kesatuan slogan tersebut dengan program-program yang di rancang dan dicanangkan oleh paket pengusungnya. 


Entahlah,  apakah slogan, “Orang Muda, Selamatkan Flores Timur” hanya sebagai counter terhadap slogan, “Selamatkan Orang Muda Flores Timur” yang mampu menggema di kalangan orang muda? Apakah slogan, “Orang Muda, Selamatkan Flores Timur”, adalah aksi “duplikat” atau plagiat dari timses paket yang mengusung slogan ini karena tergiur untuk menarik pemilih pemula? 


Sejauh yang saya tahu dan dapat diberikan bukti yang kuat, slogan “selamatkan orang muda Flores Timur” justru lebih dahulu dihembuskan lebih dahulu oleh calon bupati dari paket bereun, Antonius Hubertus Gege Hadjon (AGH) bahkan jauh sebelum beliau memastikan diri maju menjadi calon bupati yang diusung oleh PDIP, PAN dan Partai Gerindra. Yang terpenting bagi kita adalah MARI SELAMATKAN ORANG MUDA.


 Y. Hegon Kelen Kedati, Aktivis, Belajar di STF Driyarkara-Jakarta


Tidak ada komentar