BreakingNews

Dirjen Bimas Katolik : “Umat Katolik Harus Berpartisipasi dalam Pesta Demokrasi”



JURNALTIMUR.COM,- Umat Katolik perlu berpartisipasi dalam pesta Demokrasi di Pilkada DKI Februari 2017 mendatang. Karena itu, umat Katolik perlu memahami hak dan kewajiban politiknya agar dapat menjatuhkan pilihannya secara tepat sesuai hati nurani. Dalam menentukan pilihan inipun perlu mengetahui rekam jejak pribadi calon dan komitmen calon.

Dirjen Bimas  Katolik, Eusabius Binsasitampil sebagai keynote speaker dalam Seminar 
 Sabtu, 10 Desember 2016 di Jakarta.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, Eusabius Binsasi,mengatakan hal itu  saat tampil sebagai keynote speaker dalam Seminar bertema “Menuju DKI 1; Pilihan Rasional Umat Kepada Siapa, Sabtu, 10 Desember 2016 di Jakarta.

Seminar yang diprakarsai oleh Vox Poin Indonesia dan Seksi Hubungan Antar Agama Paroki St. Yakobus, Keuskupan Agung Jakarta ini  menghadirkan para pembicara RD. Eddy Purwanto (Sekretaris Eksekutif KWI), Yuniarto Wijaya (Direktur Politika Charta Politika Indonesia), dan Jhonny G. Plate (Anggota DPR-RI), dengan Moderator Handoyo Budhisejati (Ketua Umum Vox Point Indonesia).

Tujuan dari penyelenggaran pertemuan ini adalah agar umat Katolik dapat menggunakan hal pilihnya secara maksimal, memilih secara tepat dan benar secara rasional, menentukan pilihan sesuai hati nurani, serta mengajak umat Katolik tetap menjaga suasana pemilihan yang kondusif dan damai.

 Seperti diketahui, ada tiga figur pasangan calon yang bertarung di arena pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI. Dirjen mencatat, nantinya sekitar 300.000 umat Katolik Provinsi DKI bakal menjalankan hak pilihnya. 

Untuk peristiwa besar ini, Dirjen menjelaskan saat ini dinamika masyarakat ditandai dengan tiga trend  yang mengemuka yakni, trend sosiologis, psikologis, dan rasional. “Trend sosiologis menyangkut isu-isu SARA yang belakangan terjadi,” ungkap Dirjen.

"Secara kasat mata, isu SARA memang demikian mengental menjelang Pilkada. Bahkan isu ini dimanfaatkan  sebagai senjata black campaign di arena kampaye. Isu ini pun ditengarai sangat potensial menciptakan konflik." kata Dirjen. 

Belum lagi, lanjut Dirjen,  situasi regional dan global yang kerap bersinggungan dengan persoalan SARA, turut meninggilkan suhu politik jelang pemilihan. Situasi yang berkembang saat ini, tambah Dirjen, berkembangnya kelompok-kelompok masyarakat yang mengedepankan ideologi yang diyakini ketimbang paham kebhinekaan sebagai khasanah bangsa.

“Banyak orang  menganggap isu lokal kelompok tertentu lebih berpengaruh, daripada isu nasional,” sambung Dirjen. Patriotisme lokal inilah, yang menyebabkan perasaan curiga, cemas, bahkan kekhawatiran antara satu dengan yang lain,"kata Dirjen.

Trend berikutnya adalah psikologis, yang terkait dengan figur dan track record   seseorang. “Umat Katolik harus sungguh-sungguh memahami betul pribadi maupun komitmen pasangan calon yang dipilihnya,” tegas Dirjen.

Ketiga, trend rasional. “Perlu dipahami pula, apa yang memotivasi seseorang untuk maju menjadi pasangan calon dalam Pilkada nanti dan pengatahuan yang dimiliki,” papar Dirjen.

Di sesi berikutnya, Rm. Eddy Purwanto membawakan materi seputar panggilan dan tanggungjawab umat Katolik dalam menghadirkan Pilkada yang berkualitas. Dilanjutkan pengamat politik Yunarto yang membeberkan beragam pooling terkait Pilkada serentak dan Pilkada DKI 2017. Pembicara selanjutnya, Jhonny-politisi Nasdem, pendukung salah satu pasanagn calon.

Pemilih Cerdas

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Vox Point Indonesia,, Susan Binsasi Sarumaha dalam sambutannya menyampaikan bahwa forum semacam ini juga dapat dimanfaatkan sebagai pencerahan umat Katolik DKI, dalam menentukan Gubernur dan Wakil Gubernur periode lima tahun mendatang.

“Kita harus cerdas mencerna beragam media yang kerap memberitakan ketiga pasangan calon. Dengan berpikir rasional, diharapkan kita dapat dengan tepat memilih paslon terbaik, dengan mengedepankan suara hati,” ungkap Susan.

Menurutnya, menjelang pesta demokrasi berbagai media, baik media cetak  media elektronik maupun medsos terus memberi aktivitas dan visi misi ketiga calon pasangan setiap hari bahkan setiap saat.

Tidak hanya berita positif  yang mencerdaskan masyarakat, tetapi juga memberitakan berita-berita negatif yang sering terdengar sangat subyektif, bahkan saling memfitnah antar calon dan pendukung.

“Menghadapi situasi dan kondisi ini, masyarakat khususnya umat Katolik perlu diajak untuk menyatukan pikirannya secara tepat dan benar. Pikiran rasional dengan mempertimbangkan kepentingan umum secara obyektif daripada pemilih, tentu sangat penting, akan tetapi memilih dgn mengedepankan suara hati tentu juga sangat di harapkan. Menjatuhkan pilihan secara tepat pada pasangan calon yang tepat, akan sangat menentukan kesejahteraan dan kebaikan hidup bersama,” papar Susan.  (*)

Tidak ada komentar