BreakingNews

Berawal di Wae Rebo Flores, Photographer Wanita Ini Mulai Cinta Kain Tenun

JURNALTIMUR.COM---Desa Wae Rebo di Manggarai, Flores, oleh kebanyakan orang disebut sebuah surga yang berada di atas awan. Sedangkan bagi seorang fotographer wanita dari Jakarta yang bernama Cecil Damayanti, Wae Rebo adalah sebuah surga kain tenun. Sebab di Kampung Adat itu, Cecil menyadari bahwa kain tenun menunjukkan bahwa Indonesia begitu kaya dan indah.

Cecil Damayanti mengenakan
kain tenun dari Wae Rebo ( foto : Cecil)
“Awalnya di Wae Rebo saya mulai membeli kain tenunan. Walaupun saya tidak terlalu banyak membeli tenunan itu, jika dibandingkan teman-temanku lain. Hanya saja setelah itu, saya akhirnya begitu mencintai tenunan Indonesia, termasuk batik,” ujar Cecil Damayanti, kemarin (12/10/16).

Sekarang, Cecil menuturkan bahwa ia sudah mulai membedakan kualitas kain tenun. “Saya sudah membedakan mana kain tenun yang bagus, dan mana yang kurang bagus,” tutur Cecil.

Cecil mengatakan, ia bersama-sama teman kolega fotographer berkunjung ke Wae Rebo pada tahun 2014 lalu. “Setiba di Ruteng, perjalanan kami lanjutkan ke desa Denge. Di Desa ini kami nginap satu malam,” ujar Cecil. “Kami harus nginap di tempat ini karena desa ini menjadi desa terakhir yang bisa diakses dengan kendaraan,” urai Cecil.

Cerita Cecil lagi, besoknya mereka mendaki ke kampung adat itu. Di kampung Wae Rebo, Cecil dan kawan-kawan menginap dua malam.  “Budayanya begitu kaya, terutama kain tenun dan keunikan arsitektur tujuh Rumah Adat di kampung itu,” imbuhnya.

Di desa Wae Rebo itu, Cecil merasakan pengalaman wisata yang unik. Sebab Cecil dan kawan-kawan tidak tinggal di sebuah hotel. “Kami tinggal bersatu dengan rakyat di rumah-rumah adat itu. Kami menikmati makanan yang disajikan warga,” ujarnya.

Kampung Wae Rebo (foto : Cecil)
Mengunjungi Wae Rebo, membuat Cecil mulai bermimpi untuk mengajak pihak lain untuk memberi pendidikan wisata kepada masyarakat Indonesia, termasuk warga di Wae Rebo. “Supaya masyakat ramah lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya,” ujar Cecil.


Selebihnya Cecil menilai hasil tenunan menjadi peluang bagi warga untuk mendapatkan penghasilan. “Sebaiknya warga di lokasi wisata seperti Wae Rebo dididik untuk mempunyai metode dan keterampilan dalam soal penjualan hasil kerajinan,” pungkas Cecil. (fadli)

Tidak ada komentar