Nasionalisme, "Susah-susah Gampang"
JUDUL BUKU : Nasionalisme Retorika Gombal : Meneropong Indonesia dari Sudut Orang Muda.
PENULIS : Jemmy Setiawan
PENERBIT : Elex Media Komputindo, 2016
Jumlah halaman : xxi +130 hal.
Diskursus Nasionalisme memang tak ada habisnya. Ketika
nasionalisme semakin dirasa mantap sebagai sebuah spirit dalam membangun kebangsaan dan perekat hidup bersama dalam satu negara yang dinamakan Indonesia,
bersamaan dengan itu bermunculan di sana-sini berbagai ketimpangan dan
carut marut.
Pada tataran lain, nasionalisme pun sering dirasakan berbeda dulu dengan yang sekarang. Dalam beberapa survei menunjukkan kaum muda saat ini tidak lagi merasa penting mengamalkan butir-butir Pancasila bahkan sejarah yang berhubungan dengan Sumpah Pemuda tidak lagi dianggap penting untuk diingat. Nasionalisme yang semakin pudar dibarengi dengan perhatian baru pada kehidupan globalisasi yang menembus batas-batas ruang yang ada.
Dalam situasi yang hampir menjadi paradoks ini, politisi muda Jemmy Setiawan menerbitkan buku yang berkisar tentang Nasionalisme di bawah judul : "Nasionalisme Retorika Gombal : Meneropong Indonesia dari Sudut Orang Muda".
![]() |
| Jemmy Setiawan |
Buku ini dibagi dalam tiga bagian yakni Bagian Pertama: Meneropong apa yang terjadi di salah satu Negeri. Bagian kedua: Redupnya Nasionalisme, dan
bagian ketiga : Menumbuhkan Nasionalisme. Tiga bagian ini sudah cukup menggambarkan alur pikiran yang begitu runut dalam mencari dan meletakan duduk persoalan mengenai nasionalisme dalam tantangan kekinian.
Dalam memaparkan apa yang terjadi dalam suatu negeri yang tentunya dimaksud Indonesia, penulis memaparkan tentang beberapa tema penting di seputar arti kemerdekaan yang masih meninggalkan penderitaan pada sebagian penduduk negeri ini, merebaknya sikap apatis karena apa yang dibicarakn tak sesuai dengan kenyataan, atau pun situasi darurat yang tak pernah menemukan titik akhirnya.
Tema seputar kearifan lokal, keteladanan, pragmatisme dan alergi
kebangsaan, ketergantungan ekonomi, ketergantungan kesehatan,
keterbatasan mengakses media, gagalnya transformasi pendidikan, dan isu
kedaerahan menjadi bahasan di bagian kedua.
Sementara bagian ketiga, lebih
banyak berupa resep yakni keseriusan memberantas KKN, kepedulian menjaga bumi,
spirit menang, pluralistis, rejuvenasi dan revitalisasi kewaspadaan, serta menghilangkan rasa curiga.
Penulis menuliskan tema-tema itu dalam dalam bahasa yang
populer dengan uraian yang enak dibaca karena penulis mengajukan pendapatnya selalu diselingi dengan data-data akurat dari berbagai pelosok negeri.
***
Dalam uraian buku ini, pembaca akan mudah menemukan sikap dan pandangan penulis tentang nasionalisme dan bagaimana menempatkan nasionalisme sebagai kebutuhan penting Indonesia ke depan.
Di tengah uraian tentang carut marut ketidakadilan juga tantangan yang dihadapi bangsa ini ke depan, sepertinya penulis percaya bahwa nasionalisme sanggup membawa bangsa ini keluar dari situasi sulit menuju suatu keadaan yang sungguh lebih baik sesuai dengan cita-cita kemerdekaan.
“Indonesia merupakan salah satu bangsa yang pernah mengalami masa
kolonialisme yang cukup panjang. Kita masih sangat perlu menumbuhkan semangat
itu untuk terus menyuarakan tekad mandiri dan bebas mencapai kemandirian”.(Hal.7).
Untuk sampai pada pemahaman bersama arti penting nasionalisme, penulis tidak segan-segan untuk meletakan sejarah nasionalisme Indonesia, sehingga menjadi jelas dan tidak mengawang-awang. Sebagaimana diuraikan :
“Perjuangan merebut kemerdekaan membutuhkan konsep sebagai dasar
pembenaran rasional atas tuntutan penentuan nasib sendiri. Dasar pembenaran
tersebut selanjutnya mengkristal dalam konsep paham ideologi kebangsaan yang
biasa disebut nasionalisme. Dari sanalah lahir konsep-konsep turunannya seperti
bangsa (nation), negara (state) dan gabungan keduanya menjadi konsep negara –
bangsa (nation state) sebagai komponen-komponen yang membentuk identitas
nasional atau kebangsaan”. (Hal 7).
Sudah terbukti, nasionalisme model ini berhasil mengusir penjajah. Tapi dalam saat yang ada tuntutan agar nasionalisme ini harus terus diperbaharui bahkan harus terus dikontekstualisasikan. Walau tidak secara tegas mengatakan nasionalime tidak berakar dalam budaya, penulis berkeyakinan bahwa negara memiliki peran yang sangat signifikan untuk menumbuhkan nasionalisme termasuk menjawab kemerosotan semangat nasionalisme di kalangan orang muda.
Hal yang dirasakan sebagai jawaban terhadap krisis nasionalisme saat ini akan terjawab dengan mudah bila pembaca meluangkan sedikit waktu untuk lebih mendalami uraian bagian ketiga buku ini. Disana diuraikan tentang keseriusan memberantas korupsi, pengharagaan akan lingkungan sebagai ibu bumi, menumbuhkan semangat menang dan kompetisi, mendukung yang kurang mampu, komitmen sepenuh hati, pluralistik dan NKRI yang didasarkan pada keadilan sosial dan perstauan nasional.
"Atas nama rejuvenasi nasionalisme para pemimpin harus berani mengambil keputusan dan pembuatan kebijakan negara dalam bidang politik, sosial-ekonomi dan agama yang berhubungan dengan komunitas-komunitas etnik yang heterogen. Perbedaan yang ada dapat lebih diarahkan untuk membangun kebersamaan bagi seluruh komponen bangsa, baik di pusat maupun daerah dan antar daerah, serta antar golongan sehingga jurang kaya-miskin tak mencolk. (Hal. 124).
Apa pentingnya buku ini ?
Pertama, buku ini merupakan uraian yang baik tentang nasionalisme yang
berkembang saat ini apalagi diungkapkan oleh seorang muda yang bergelut dekat
dengan persoalan saat ini. Diskusi panjang tentu saja, tapi yang jauh lebih
penting adalah diskusi dengan data dan perspektif yang dapat diuji. Buku ini
menjawabi kebutuhan itu.
Kedua, uraian tentang nasionalime
dalam buku ini perlu dicari turuanannya yang lebih aplikatif terutama
menyangkut pendidikan nasionalisme di kalangan orang muda. Buku ini menjadi
awal yang baik untuk membangun program-program memajukan anak-anak muda ke
depan.
Ketiga, sebagai aktivis dan
politisi, juga pembisnis penulis menunjukaan tradisi yang penting adalah
menulis. Bagaimana pun tradisi ini hampir hilang bahkan tidak lagi dianggap
penting. Padahal politisi yang menulis misalnya, adalah politisi yang selalu
siap meningkatkan kualitasnya karena menulis sama dengan merefleksikan.
(Benjamin Tukan)


Tidak ada komentar