BreakingNews

Media “Abal-abal”, Narasumber Boleh Menolak Diwawancarai



JURNALTIMUR,-  Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo mengatakan saat ini banyak sekali media asal-asalan yang memeras narasumber dan institusi pemerintah. Untuk menekan tumbuhnya media tak professional atau “abal-abal”, Dewan Pers akan menandai setiap media yang lolos verifikasi.

Yosep Adi Prasetyo
“Media yang lolos verifikasi akan memiliki logo semacam sertifikasi sehingga setiap narasumber tahu sedang berurusan dengan media apa,” kata  Stanley sapaan Yosep Adi Prasetyo dalam diskusi “Sertifikasi Kompetensi Wartawan”, di Gedung Dewan Pers, Jakarta,  Kamis (1/9/2016).  

Menurut Stensly, narasumber boleh menolak diwawancarai atau menolak membuka informasi jika media yang mewawancarai tak memiliki kompetensi jurnalistik.

Dikatakan Stanley,  dari sekitar 43.000 media online di Indonesia, hanya 211 yang lolos verifikasi atau bersertifikat. Dari 2.000 media cetak, hanya 460-an yang lolos verifikasi Dewan Pers.

“Penandaan yang diberlakukan pada media online dan cetak akan mulai diterapkan pada Februari 2017 dalam puncak acara peringatan Hari Pers Nasional di Ambon-Maluku. Dengan begitu, kata Stenly, para pejabat di daerah yang akan menjadi narasumber juga bisa membedakan wartawan yang benar atau abal-abal,” kata Stenly.

Dalam rangka meningkatkan kompetensi professional wartawan, Dewan Pers juga mendorong percepatan sertifikasi wartawan melalui uji kompetensi jurnalis. Sejak diluncurkan tahun 2010, sampai sekarang, wartawan yang bersertifikat baru sekitar 8.000 orang dari 80.000-an jurnalis di Indonesia.

Mantan Ketua Dewan Pers Bagir Manan, mengatakan ada tiga syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wartawan yaitu pengetahuan, keahlian, dan etika. 

"Tidak ada wartawan abal-abal. Wartawan itu bukan abal-abal, kalau abal-abal ya bukan wartawan. Abal-abal saja," celetuknya diiringi tawa peserta diskusi. (*)

Tidak ada komentar