Lompatan Jauh, image-making ala Anton Doni
Entah mengapa, walaupun saya seorang Pastor Diosesan
untuk Keuskupan Pangkalpinang, tetapi saya begitu tertarik untuk mengamati peta
komunikasi politik menjelang Pilkada Flores Timur, 2017 nanti. Ketertarikan
saya tersebut diinspirasi oleh pemeberitaan media ini dan media local lain di
NTT tentang jargon politik para calon kandidat, dan titel atau nama profil
media social milik para calon kandidat.
Apalagi realitas tersebut di atas semakin
diprovokasi oleh pernyataan Rossenberg
bahwa media telah melahirkan suatu bentuk gaya komunikasi yang berbasis image-making.
Dan memang benar, pemilu termasuk di dalamnya
pilkada adalah arena dan sebuah panggung yang menarik untuk ditonton, diamati
dan diberi penilaian lewat bangunan opini. Sebab secara semiotik, saya
memandang pilkada adalah penanda yang mengkomunikasikan perang atas image.
Sehingga actor politik yang hendak bermain di dalamnya, mau tidak mau membangun
strategi kemenangan berbasiskan image
making.
Melalui image
making ini, para kandidat mengkonstruksikan metode negosiasi. Negosiasi
dengan siapakah? Jelas bahwa image making
merupakan panggung semiotik untuk menegosiasikan pesan antar kandidat kepada
khalayak, dalam hal ini kepada pemilihnya.
Sehingga melalui image making, terjadi pergeseran komunikasi politik dari pesan mitos
bahwa saya dilahirkan untuk menjadi pemimpin kepada metodologi komunikasi untuk
mengkonstruksikan citra bahwa saya bertekad menjadi pemimpin karena mempunyai
konsep dan strategi. Citra tidak bisa dikonstruksi oleh klaim, tetapi oleh
kerangka berpikir komunikasi, terutama mengolah pesan. Sehingga pesan itu
disampaikan secara jelas kepada publik dan mempengaruhinya.
![]() |
| Deklarasi pasangan Antero di Larantuka, Flores Timur |
Kemarin, secara kebetulan kami kru
jurnaltimur.com, berjumpa dengan Bakal calon Bupati Flores Timur yang diusung
Partai Kebangkitan Bangsa, Anton Doni. Akhirnya kesempatan itu menjadi ajang
diskusi dan pemaparan program Anton Doni. Garis besar programnya, ia ceritakan
seperti dipublikasikan jurnaltimur.com hari ini.
Jargon
politik “Lompatan Jauh” dan ekspektasi warga Flotim
Dalam konstruksi realitas, bahasa adalah unsur
utama dalam menyampaikan pesan, termasuk pesan politik. Sebab, ia merupakan unsur pokok untuk menceritakan
realitas itu. Peter Berger, penganut konstruktivisme meyakini bahwa bahasa adalah
alat konseptualisasi dan narasi. Fiske(1990) dalam Cultural and Communcation Studies, menambahkan bahwa dengan
penggunaan bahasa tertentu dengan demikian berpengaruh pada konstruksi realitas
dan makna yang dikandungnya.
Lantas berdasarkan jargonnya, “Lompatan Jauh,”
Anton Doni dan Ruth Wungubelen sedang
mengaplikasikan gaya komunikasi impression
leaving. Maksudnya bahwa pasangan ANTERO ini sedang tampil sebagai
komunikator politik yang sedang membentuk kesan kepada pemilihnya, bahwa selama
ini Flotim hanya bergerak di tempat.
Bahkan melalui jargon itu, pemilih di Flotim
bisa mempunyai persepsi bahwa Flotim selama ini masih dikategorikan sebagai
negeri yang hanya puas dengan masa lalu. Lantas larut dalam pesta dan dansa,
dan lupa mengkonstruksikan konsep, strategi dan langkah terobosan untuk
melompat jauh. Minimal lompatan seperti yang dilakukan Kabupaten baru di NTT,
Sabu Raijua yang dipimpin Bupati Marthen Dira Tome yang mampu membuat pabrik garam
dan menjadi leader marketing atas
produk itu.
Jargon politik “lompatan jauh” ini mau tidak
mau menimbulkan awareness (diketahui)
ata ribu ratu (publik) yang selama
ini tidak mengenal Anton Doni dan Ruth Wungubelen. Awareness ini bisa berujung pada timbulnya ekspektasi orang Flotim untuk
ikut melompat jauh juga bersama pasangan ini.
Terbaca saat ini, publik Flotim sedang membutuhkan lapangan pekerjaan. Masyarakat Flotim juga menginginkan agar negerinya yang indah dan eksotik itu dijadikan obyek wisata.
Selain itu daerah-daerah terisolir seperti Tanjung Bunga dan Solor harus mendapat perhatian serius agar ikut melompat jauh. Supaya bukan hanya Kota Larantuka dan Adonara yang melompat jauh, tetapi minimal jalan raya dan pasar juga dibuka sampai ke kampung yang paling tertinggal di ujung timur Flores, Desa Pati Sira Walang atau dikenal dengan Basira. Sebab jika diteliti secara baik maka kampung Basira ini termasuk salah satu Desa yang "terkubur" dalam stigma, desa tertinggal karena belum mempunyai akses jalan raya.
Pertanyaan selanjutnya, apakah
jargon politik ini akan menjadi “roh” yang mendasari pasangan Antero untuk
mengubah Flotim atau sekedar bahasa kampanye? Mari dan lihatlah. (*)
Romo
Stefan Kelen Pr, pemerhati komunikasi politik sedang studi S2 Komunikasi Politik di Universitas
Mercu Buana-Jakarta

Tidak ada komentar