Jakarta World Forum 2016, “Cara Baru Berkomunikasi Jadi Tantangan bagi Wartawan
![]() |
|
Jakarta World Forum 2016 di
Universitas Multimedia Nusantara Tangerang
20-22
September 2016 (sumber foto: Koran-sindo.com)
|
JURNALTIMUR,-
Praktik jurnalisme memberikan pengaruh terhadap berbagai
sisi kehidupan masyarakat Namun saat
ini, jurnalisme dan media tengah menghadapi tantangan terkait perkembangan
teknologi dan globalisasi informasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Cara
baru komunikasi menjadi tantangan baru, terutama bagi wartawan maupun industri
pers.
Indonesia menjadi tuan rumah
pagelaran forum media internasional 2016 ke empat, bertajuk "
Decoding the Future: Rethinking Media for a New World
" dan diselenggarakan di Universitas Multimedia Nusantara, Serpong,
Tangerang di Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang
pada
20-22 September 2016.
Jakarta
World Forum 2016 diselenggarakan berupa seminar dan diskusi oleh para pelaku
dunia media yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Perhelatan
Jakarta World Forum 2016 sendiri merupakan hasil kerja sama Global
Forum for Media Development (GFMD) dengan
Dewan Pers Indonesia dan Universitas Multimedia Nusantara.
Jakarta
World Forum 2016 yang merupakan konferensi internasional keempat yang
diselenggarakan oleh GFMD, diharapkan bisa menjadi wahana berbagi
pengalaman, tukar gagasan, mengetahui teknologi komunikasi terbaru, dan
mendiskusikan hasil riset.
Forum juga diarahkan untuk
menawarkan solusi praktis menghadapi tantangan baru industri media,
seperti kemampuan meliput, mengakses informasi, dan melindungi
wartawan. Forum ini juga mendiskusikan peran media dalam
mengkonter agenda kelompok radikal, melihat trend media di kawasan Asia,
serta menggagas berbagai inovasi yang ditawarkan media baru.
Pertemuan yang dihadiri lebih dari 200 praktisi dan akademisi
di bidang jurnalistik dari yang berasal dari berbagai negara, membahas sejumlah
isu antara lain media dan pembangunan, media dan bisnis, media dan teknologi,
media dan masyarakat, ekstrimisme dan propaganda serta isu mengenai kebebasan
akses informasi. Sejumlah praktisi media dari sedikitnya 62 negara berasal dari
organisasi internasional dan asosiasi media massa internasional serta dalam
negeri.
Tsunami"
media digital dan Kebebasan Pers
Menurut Anggota Dewan Pers Ratna
Komala, alasan Indonesia dipilih menjadi tuan rumah karena Indonesia memiliki
sejarah perjalanan kebebasan pers yang cukup panjang mulai dari jaman orde baru
hingga era reformasi. Indonesia dipandang sebagai salah satu negara demokratis
terbesar dan merupakan simbol transisi kebebasan pers.
"Ini merupakan pengakuan
bagi pers Indonesia. Dan bagi kami Dewan Pers, forum ini momentum penting dalam
memanfaatkan kebebasan pers untuk berdiskusi menghasilkan sebuah
pemikiran-pemikiran bersama untuk melihat masa depan media," kata Ratna.
Global Forum for Media
Development (GFMD) selaku lembaga swadaya masyarakat internasional yang
menggagas Jakarta World Forum for Media Development menyatakan banyak isu
penting yang perlu diangkat terkait eksistensi media massa saat ini.
Ketua GFMD Leon Willems mengatakan saat ini media memasuki masa
transisi dan harus mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. “Kita perlu sadar bahwa kita semua
sedang dalam masa transisi. Maka dari itu, kita harus terus belajar dan bersikap
optimis. Dan tentunya, kita perlu bekerja sama sebagai sebuah tim untuk
mencapai suatu perubahan," katanya.
Menurut Leon saat ini media
memasuki masa transisi dan harus mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. “Transisi
yang sedang berlangsung, itu yang sedang kita hadapi. Tantangan lainnya adalah
bagaimana media menghadapi perubahan dan melalui transisi itu,” katanya.
Leon menuturkan, forum seperti ini juga
dimanfaatkan sebagai ajang untuk mendorong kebebasan pers, peningkatan kinerja
pers yang semakin profesional dan transparan, serta membuka akses informasi
seluas-luasnya bagi masyarakat.
Setiap
sesi dalam seminar dan diskusi secara garis besar membahas seputar posisi media
saat ini dan sikap yang harus diambil dalam rangka menghadapi tantangan ke
depannya.
Berbagai tantangan yang dimaksud antara lain menyangkut isu
terorisme, perubahan iklim, masalah ekonomi, serta teknologi dan transisi
digital.
Leon berharap forum ini akan
menjadi wahana berbagi pengalaman, bertukar gagasan dan mendiskusikan
hasil-hasil riset yang telah dilakukan selama ini terkait masa depan media
massa. "Kami berharap forum ini bisa menjadi bagian dalam
upaya pembangunan global yang berkelanjutan," katanya.
Leon mendorong agar media massa
khususnya wartawan mengembangkan kemampuan dan menyesuaikan dengan perkembangan
teknologi dan situasi yang ada sehingga dapat memenuhi kebutuhan informasi
masyarakat. "Masa depan media, bersandar dari perubahan cara berpikir
menghadapi perubahan yang ada," katanya.
Leon mengungkapkan, Jakarta
merupakan tempat ideal untuk mendiskusikan tren media terbaru. “Selain
menjadi simbol suksesnya transisi demokrasi, Jakarta juga dikenal sangat cepat
mengadopsi teknologi informasi, seperti media sosial, untuk menyuarakan hak
publik dan partisipasi politik. Jakarta berada di persilangan berbagai agama
dan budaya, dan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dari berbagi sektor.”
Isu-isu jurnalisme di Indonesia dalam kancah
internasional
Sementara
itu, Yosep Adi Prasetyo, ketua Dewan Pers menyampaikan, penyelenggaraan
WFMD di Jakarta merupakan prestasi bagi Indonesia. Melalui World Forum ini,
tersedia forum bagi jurnalis, akademisi, dan pegiat media di Indonesia untuk
diskusi dan membahas secara mendalam isu-isu jurnalisme di Indonesia dalam
kancah internasional.
“Kita
berharap bisa mendapatkan perspektif dan komparasi menyangkut independensi
media, konglomerasi media, perkembangan media sosial, efek pengembangan
teknologi digital, serta isu terorisme."
Yosep Adi Prasetyo dalam
kesempatan itu mengatakan perkembangan saat ini mendorong semakin tipisnya
batas antar negara, sehingga hubungan antara masyarakat juga semakin terbuka.
Ia mengatakan saat ini praktik
jurnalisme memberikan pengaruh terhadap berbagai sisi kehidupan masyarakat.
"Audiens memiliki posisi
yang pararel dengan jurnalis. Internet menjadi saluran cepat yang menghantarkan
informasi, dengan aturan yang masih terbatas namun dampak yang luas"
paparnya.
Sedangkan,
Rektor UMN Dr. Ninok Leksono mengatakan,
acara ini dilaksanakan pada waktu yang tepat, di mana industri media
sedang dilanda tsunami digital media. Media tradisional ditantang oleh
media digital, fenomena yang disertai bangkitnya media sosial serta generasi
Y," ungkap Ninok.
Pembangunan
Berkelanjutan
Dalam salah satu sesi Jakarta
World Forum for Media Development 2016 yang berlangsung di Tangerang Selatan,
Selasa, aktivis hak asasi manusia dan perubahan iklim Emmy Hafidz mengatakan
kebebasan informasi dapat mendorong banyak pihak memahami program yang baru
saja diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa beberapa waktu lalu tersebut.
"Pembangunan berkelanjutan
adalah terminologi yang tidak mudah dan banyak yang belum mengetahui bagaimana
pembangunan berkelanjutan," katanya.
Menurut Emmy, kebebasan akses
informasi akan membantu keberhasilan pencapaian program pembangunan
berkelanjutan. Ia menilai salah satu hal yang dapat dilakukan dalam kebebasan
informasi untuk mendorong keberhasilan program tersebut adalah dengan menjalin
kemitraan dengan media secara berkesinambungan.
Dengan pemahamahan yang sama
antara semua pihak termasuk media terhadap tujuan dari pembangunan
berkelanjutan maka diharapkan media bisa menyampaikan pandangan dan
pengamatannya.
Sementara itu Regional Cluster
leader for Government and Peacebuilding UNDP Phil Matsheza mengatakan
keterbukaan informasi cukup penting, namun yang paling utama adalah bagaimana
implementasinya.
"Kita memerlukan narasi baru
untuk menunjukkan kebebasan pers dan keberpihakan pada masyarakat,"
katanya.
Direktur Utama Perum LKBN Antara
Meidyatama Suryodiningrat yang merupakan salah satu pembicara dalam sesi
tersebut mengatakan media massa seharusnya berperan juga sebagai pihak yang
mendorong kebebasan informasi.
"Saya melihat media massa
mencerminkan bagaimana masyarakatnya," katanya.
Meidyatama mengatakan, kaitannya
dengan pengembangan capaian program pembangunan berkelanjutan, media massa atau
wartawan perlu mendapat bantuan untuk memahami isu tersebut sekaligus
berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk lembaga swadaya masyarakat.
Menurutnya, asistensi atau
bantuan untuk memahami porgram pembangunan berkelanjutan itu diperlukan agar
media massa atau wartawan dapat membuat laporan yang komprehensif dan bisa
disampaikan ke masyarakat dalam kerangka kebebasan informasi.
Perkembangan
Teknologi
Media massa saat ini menghadapi tantangan terkait
perkembangan teknologi dan globalisasi informasi untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat, kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.
Dalam sambutannya yang
dibacakan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Niken Widyastusi pada pembukaan
pertemuan internasional 'Media dan Pembangunan', di Serpong, Selasa, (20/9/2016),
Menkominfo mengatakan tantangan tersebut perlu dicermati oleh media massa dan
wartawan.
"Teknologi informasi
berkembang cepat, membuat informasi tersebar cepat dan bisa diakses secara
global," kata Rudiantara sebagaimana disampaikan Niken dalam pembukaan
acara tersebut.
Cara baru komunikasi memberikan
tantangan yang baru antara lain informasi yang negatif seperti radikalisasi
dan pornografi sehingga memberikan dampak negatif.
Pemerintah Indonesia, kata
Rudiantara, berkomitmen untuk mendorong perkembangan media massa di Indonesia
dengan menjunjung tinggi nilai demokrasi dan keterbukaan informasi
Media massa saat ini menghadapi
tantangan terkait perkembangan teknologi dan globalisasi informasi untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat. Cara baru komunikasi menjadi tantangan baru,
terutama bagi wartawan maupun industri pers.
Menkominfo mengatakan tantangan
tersebut perlu dicermati oleh media massa dan wartawan. Pemerintah Indonesia,
kata Rudiantara, berkomitmen untuk mendorong perkembangan media massa di
Indonesia dengan menjunjung tinggi nilai demokrasi dan keterbukaan informasi. (Benjamin Tukan, rangkuman dari berbagai media)
-------------
-------------
Redaksi menerima tulisan berbentuk artikel, laporan perjalanan, dan opini. Pengiriman
disertai alamat email dan nomor telpon/HP. Redaksi berhak mengedit tanpa
mengubah substansi isi.
Kirim artikel, laporan perjalanan, dan opini ke email : redaksijurnaltimur@gmail.com

Tidak ada komentar