BERITA DUKA : Wartawan Senior Tarman Azzam Berpulang
JURNALTIMUR,- Kabar duka datang dari dunia pers Indonesia. Wartawan
senior yang juga penasehat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tarman Azzam
meninggal dunia setelah mendapat serangan jantung di Ambon, Maluku, Jumat
pagi (9/9/2016). Tarman Azzam berada di Ambon untuk menghadiri pesta Teluk Ambon
dan peluncuran Hari Pers Nasional (HPN) 2017.
![]() |
| Tarman Azzam |
Pesan serangan jantung yang dialami Tarman Azzam disampaikan
pertama kali oleh Ketua Panitia HPN 2007 Muhammad Ihsan dalam pesan di group
Whatsapp PWI.
“Mohon doa teman-teman semua, Pak Tarman terkena serangan jantung
di kamar Hotel Manise , Ambon,” tulis Ihsan pada pukul 7.07 WIB.
Tak lama berselang Ketua Dewan Kehormatan PWI, Ilham Bintang
yang menyampaikan kabar duka.
“ Telah berpulang ke rahmatullah sahabat kita Tarman Azzam, Jumat
(9/9), pukul 7.23 akibat serangan jantung di Ambon,”tulis Ilham. Menurut rencana jenazah Tarman Azzam akan dibawa ke Jakarta hari
ini juga.
Tarman Azzam telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk organisasi PWI baik PWI Jaya maupun PWI Pusat. Tarman pernah
didapuk sebagai Ketua Umum PWI Pusat dua priode, yakni mulai tahun 1998 hingga
2008. Suatu periode waktu dimana PWI berada dalam masa sulit.
Tarman Azzam pernah menerima anugerah sebagai Tokoh wartawan Dunia
Melayu dari Persatuan Bekas wartawan Berita Harian Malaysia. Pemberian anugerah
itu diberikan oleh Menteri Besar Selangor Dr Mohamad Khir Toyo dan Presiden
Persatuan Bekas wartawan Berita Harian Malaysia (PBWBHM) di Selangor, 1987.
Sebelum aktif di PWI, Tarman Azzam, berorganisasi di Pelajar Islam
(PII) dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU. Sekitar 1966, ia juga aktif
dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), kemudian aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Karirnya sebagai wartawan diawali sebagai wartawan KAMI, sebuah koran yang dipimpin dan dikelola oleh sebagian besar para aktivis mahasiswa anggota KAMI. Setelah KAMI dibredel memilih menjadi wartawan Radio Arif Rakhman Hakim (ARH) dan kemudian menjadi wartawan Pos Sore, kini menjadi Terbit.
Sebagai pengurus PWI ia juga pernah menjadi anggota MPR, anggota DPRD DKI Jakarta dan Majelis Pakar Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).
Ketika menjadi Ketua PWI Jaya, ia pernah berpesan bahwa Kota Jakarta bagi jurnalis merupakan tempat yang sangat tepat untuk berkompetisi.
Salah satu karya PWI Jaya di bawa kepemimpinannya yakni diterbitkan sebuah buku mengenai sejarah dan perjuangan PWI Jaya berjudul PWI Jaya di Arena Massa yang disusun oleh Soebagio I.N., seorang sejarawan pers Indonesia, pensiunan Kantor Berita ANTARA tahun 1998.
Di era kepemimpinan Tarman juga, PWI Jaya terhitung sejak 1995 telah mengabadikan nama Mohammad Hoesni Thamrin, tokoh pers nasional dan pejuang kemerdekaan asal Betawi, sebagai bentuk sebuah penghargaan tertinggi atas karya jurnalistik terbaik para anggota PWI Jaya. Anugerah ini merupakan pengganti Anugerah Jurnalistik Adinegoro yang diadakan PWI Jaya sejak 1974, tapi sejak 1995 program itu telah ditingkatkan menjadi program PWI Pusat. (*)
Karirnya sebagai wartawan diawali sebagai wartawan KAMI, sebuah koran yang dipimpin dan dikelola oleh sebagian besar para aktivis mahasiswa anggota KAMI. Setelah KAMI dibredel memilih menjadi wartawan Radio Arif Rakhman Hakim (ARH) dan kemudian menjadi wartawan Pos Sore, kini menjadi Terbit.
Sebagai pengurus PWI ia juga pernah menjadi anggota MPR, anggota DPRD DKI Jakarta dan Majelis Pakar Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).
Ketika menjadi Ketua PWI Jaya, ia pernah berpesan bahwa Kota Jakarta bagi jurnalis merupakan tempat yang sangat tepat untuk berkompetisi.
Salah satu karya PWI Jaya di bawa kepemimpinannya yakni diterbitkan sebuah buku mengenai sejarah dan perjuangan PWI Jaya berjudul PWI Jaya di Arena Massa yang disusun oleh Soebagio I.N., seorang sejarawan pers Indonesia, pensiunan Kantor Berita ANTARA tahun 1998.
Di era kepemimpinan Tarman juga, PWI Jaya terhitung sejak 1995 telah mengabadikan nama Mohammad Hoesni Thamrin, tokoh pers nasional dan pejuang kemerdekaan asal Betawi, sebagai bentuk sebuah penghargaan tertinggi atas karya jurnalistik terbaik para anggota PWI Jaya. Anugerah ini merupakan pengganti Anugerah Jurnalistik Adinegoro yang diadakan PWI Jaya sejak 1974, tapi sejak 1995 program itu telah ditingkatkan menjadi program PWI Pusat. (*)

Tidak ada komentar