Penduduk Miskin Papua Bertambah 52.620 Jiwa
JURNALTIMUR,- Jumlah penduduk miskin
Papua selama setahun terakhir meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat
Statisistik (BPS), lebih dari 52.620 jiwa jatuh ke bawah garis kemiskinan selama
periode tersebut. Dengan demikian penduduk miskin Pulau Papua secara agregat
membengkak dari 1,08 jiwa per Maret 2015
menjadi 1.14 juta jiwa per maret 2016. Ini justru anomaly karena pada saat yang
sama jumlah penduduk miskin di daerah lain berkurang.
Padahal, menurut berita Kompas 21
Juli 2016, pemerintah terus menggenjot investasi swasta dan pemerintah ke
Papua. Investasi pemerintah diukur dari dana otonomi khusus, misalnya, yang
meningkat hampir dua kali lipat selama enam tahun terakhir, yakni dari Rp. 3.85
triliun tahun 2010 menjadi Rp. 7.7 triliun pada 2016. Ada pula dana tambahan
infrastruktur yang juga meningkat dalam porsi lebih kecil, yakni dari Rp. 1.4
triliun pada 2010 menjadi 1.8 triliun tahun 2016.
Sebagaimana berita Antara, 26 Juli 2016, data laman BPS Papua, mengungkapkan,
bila dilihat menurut tipe daerahnya, penduduk miskin di Papua terkonsentrasi di
daerah perdesaan pada Maret 2016 sebanyak 37,14 persen. Sedangkan jumlah
penduduk miskin di wilayah perkotaan, menurut BPS, hanya terdapat sebesar 4,42
persen.
BPS mengungkapkan, garis
kemiskinan (GK) di perkotaan pada Maret 2016 sebesar Rp466.985, lebih tinggi
dari GK perdesaan yang mencapai Rp412.991. BPS mencatat pada periode September
2015-Maret 2016 , Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan
Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan kenaikan yang sangat signifikan.
Hal itu mengindikasikan bahwa
rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin menjauh dari garis
kemiskinan, dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin melebar.
Akar Masalah
Menurut Kepala Pusat Studi
Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Revrisond Baswir
sebagaimana dikutip dari Kompas 21 Juli
2016, konsep kemiskinan yang digunakan BPS menggunakan ukuran daya beli. Oleh karena
itu ia menduga inflasi salah satu penyebab bertambahnya jumlah penduduk miskin
di Papua.
Revrisond juga menilai, kebijakan
pusat untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat Papua cenderung mereplikasi
model pembangunan di Jawa dan Sumatera. Model yang dimaksud misalnya dengan
menggenjot jenis investasi yang dalam konteks Papua kurang bisa menyerap tenaga
kerja lokal.

Tidak ada komentar