Sejumlah Tantangan Pasca Divestasi Saham Freeport.
JURNALTIMUR.COM. Sejumlah tantangan bakal dihadapi pasca
divestasi Saham Freeport. Tantangan itu diantaranya persoalan tata kelola yang rawan praktik korupsi, nepotisme dan intervensi juga pada manfaat bagi rakyat Papua.
Hal ini mengemuka dalam diskusi yang menyertai peluncuran
buku karya peneliti dan penulis masalah pertambangan khususnya masalah yang
menyangkut PT Freeport, Ferdy Hasiman. Buku berjudul “Freeport:
Bisnis Orang Kuat vs Kedaulatan Negara”diluncurkan di
Jakarta, Senin (28/1/2019).
Buku setebal 367
halaman dan diterbitkan Penerbit Kompas ini, mengulas Freeport, baik dari sudut
pandang sejarah, analisis finansial (kinerja), hubungan Freeport-Negara,
Freeport-Papua dan rantai bisnis pengusasa-pengusaha yang selama ini dekat
dengan akses kekuasaan.
Sebagai pembicara diskusi, Menteri BUMN 1999-2004 Laksamana
Sukardi dan Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia Rizal Kasali.
Sementara moderator diskusi Wartawan
Kompas Pieter Gero.
Laksamana Sukardi mengatakan sejumlah
tantangan yang harus dihadapi Inalum pasca divestasi 51 persen saham PT
Freeport Indonesia. Di antaranya mengenai governance atau tata kelola.
"Tantangan ada tiga, pertama Governance. Tata kelola di
BUMN itu rawan intervensi. Apalagi supply chain-nya besar," kata Sukardi
Dikatakan, upaya untuk menjaga tata kelola yang baik di
tubuh Freeport harus terus dilakukan. Salah satunya bisa ditempuh dengan
menjadikan Freeport sebagai perusahaan publik.
Rizal Kasali mengingatkan Freeport pasca divestasi harus bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya
bagi rakyat, khususnya Papua di bidang ekonomi dan pengembangan sumber daya. “
Jangan lagi terulang kasus gas Arun di Aceh. Setelah gasnya habis, rakyat dapat
apa? Kata Rizal.
Ferdy Hasiman menuturkan, banyak pengusaha dan orang kuat di
Indonesia mulai era Orde Baru hingga
reformasi sekarang berebutan menjadi partner bisnis dengan PT Freeport Indonesia.
Mereka terlibat dalam bisnis jasa memasok Bahan Bakar Minyak (BBM), bahan
peledak, jasa pembangunan pelabuhan sampai catering.
“Pengusaha-pengusaha lokal ini termasuk orang-orang kuat
yang memiliki akses dengan kekuasan dan partai politik. Selain itu, Freeport
juga ditopang oleh kekuatan global dan negara asalnya, Amerika Serikat,” kata
Ferdy
Untuk diketahui, PT Freeport Indonesia, perusahan tambang
asal Amerika Serikat yang beroperasi di Timika, Papua, resmi melepas sebagian
sahamnya ke Indonesia hingga 51.23 persen pada 21 Desember 2018. Saham ini
dibagi menjadi 41, 23 persen milik Inalum dan 10 persen milik pemerintah
Provinsi Papua. Bersama Pemerintah Kabupaten Mimika. Freeport McMoran Inc
selaku perusahan induk memegang saham 48, 77 persen. (Ben)
Penulis Berita : Benjamin (tukanben@gmail.com)
Penulis Berita : Benjamin (tukanben@gmail.com)

Tidak ada komentar