Politisi Golkar Erwin Ricardo Silalahi : "Parpol Perkuat Posisi Warga Negara"
![]() |
| kegiatan “Pemantapan Ideologi Kebangsaan dan Kepartaian Bagi Fungsionaris Partai dan Masyarakat Umum”, yang diselenggarakan oleh Partai Golkar, Sabtu (12/1/2019) |
JURNALTIMUR.COM,- Partai Golkar sebagai partai moderen tertua
di Indonesia memandang bahwa adalah hal yang urgen dan penting untuk
memantapkan pijakan ideologisnya. Sebagaimana basis ideologi historis
kelahirannya, Partai Golkar memang hadir untuk menjadi “pengawal dan benteng
Pancasila”. Hal mana mengandung makna
bahwa implementasi Pancasila mesti diwujudnyatakan dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara dengan berpegang pada platform dasar: NKRI, Pancasila, UUD 1945
NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Hal tersebut disampaikan oleh Erwin Ricardo Silalahi dalam
sambutan pengantar kegiatan “Pemantapan
Ideologi Kebangsaan dan Kepartaian Bagi Fungsionaris Partai dan Masyarakat
Umum”, yang diselenggarakan oleh Partai Golkar, di Jakarta, Sabtu (12/1/2019). Kegiatan ini
bertujuan menguatkan pemantapan pemahaman dan implementasi ideology Pancasila,
UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Menurut Erwin Ricardo yang juga Caleg DPR RI Partai Golkar
nomor urut 2 dari Dapil Jakarta-1 (Jakarta Timur), dari perspektif substansi demokrasi, partai
politik sejatinya merupakan pilar utama kehidupan demokrasi yang memiliki tugas
pokok dan fungsi sebagai pilar demokrasi.
![]() |
| Erwin Ricardo Silalahi |
“Melalui parpol, proses demokrasi bergulir sebagai manifestasi
dari penegakan kedaulatan rakyat. Jadi,
tupoksi parpol bermuara pada ikhtiar memperkuat posisi warga negara sebagai pemegang kedaulatan tertinggi," kata Erwin
Sebagai partai moderen tertua di Indonesia, lanjut Erwin Ricardo, Golkar secara
konsisten, terus-menerus, dan terukur menyelenggarakan berbagai kegiatan yang
bertujuan melakukan pencerahan politik kepada anggota, kader, dan juga kepada
warga masyarakat. “Kegiatan pemantapan ideologi kebangsaan dan kepartaian ini
merupakan bagian dari tanggung jawab ideologis Partai Golkar,” tegas Erwin
Ricardo yang juga Wakil Ketua Umum Depinas SOKSI.
Menurut dia, pemantapan ideologi kebangsaan yang
diselenggarakan oleh Partai Golkar saat ini sekaligus merupakan manifestasi
dari misi luhur Partai Golkar untuk mengemban tanggungjawab kesejarahan yang berbasiskan pada prinsip sekaligus
karakter ideologis karya-kekaryaan.
“Prinsip karya-kekaryaan inilah yang terejawantahkan pula dalam karakter
pemerintahan Jokowi-JK melalui semboyan Kerja, Kerja, Kerja!, di mana Partai
Golkar menjadi kekuatan politik penopang pemerintahan,” pungkas Erwin Ricardo.
Sementara itu, saat berbicara di hadapan lebih dari 100
peserta kegiatan tersebut, Wakil Sekjen DPP Partai Golkar yang juga Sekretaris
Badan Kajian Strategis dan Intelijen (Bakastratel) DPP Partai Golkar, Viktus
Murin, mengingatkan bahwa negara-bangsa yang kita diami sekarang ini merupakan
“warisan” dari Para Pendiri Bangsa, sehingga kita berkewajiban menjaga
keutuhan, dan memajukan keberadaannya untuk kesejahteraan bersama, sekaligus
bermanfaat bagi pergaulan hidup antar-bangsa di dunia.
“Tidak ada sedikit hak
apapun bagi kita, siapapun kita, apapun golongan dan kelompok kita, untuk merongrong negara-bangsa ini, apalagi
membubarkannya. Apa hak sejarah kita untuk membubarkan negara-bangsa ini? Kita
hanya pewaris negeri ini, oleh karena itu kita wajib kita, menjaga keutuhan
negara-bangsa yang besar dan mejemuk ini,” tegas Viktus Murin, penerima
penghargaan dari majalah rohani Narwastu sebagai “Tokoh Kristiani 2018”.
Sekjen Presidium GMNI periode 1999-2002 ini menegaskan,
sebagai refleksi kecintaan kita kepada negara dan bangsa ini, baiklah kita
tidak membiarkan diri kita, apalagi bermain api hanya untuk mengejar
kepentingan sesaat dengan menghalalkan
segala cara. Tindakan politisisasi SARA
dan radikalisme misalnya, merupakan tindakan buruk yang tidak saja melemahkan
integrasi nasional, tetapi dapat memicu perpecahan bangsa.
“Politisasi SARA
menjadi sangat berbahaya lantaran berujung pada mengkristalnya radikalisme.
Dari konteks logika kausalitas atau sebab-akibat, politisasi SARA merupakan
jalan tercepat menuju disintegrasi nasional,” tegas Viktus Murin.
Menurut Viktus Murin, bangsa Indonesia tidak menjadi indah
secara sosial apabila homogen. Indonesia menjadi indah karena bangsa ini
heterogen, majemuk. Alam Indonesia memang indah, tetapi kalau tidak indah secara
sosial, apalah gunanya? “Kemajemukan Indonesia itu harus kita syukuri sebab hal
itu bersifat given atau terberikan sebagai anugerah dari Tuhan Sang Pencipta,” ujar Viktus Murin,
penulis buku “Mencari Indonesia, Balada Kaum Terusir” yang telah diterbitkan
tahun 2005 silam. ***


Tidak ada komentar