Kisah “Mudik” Ronaldo dan Messi, Ditransaksikan ke Pesan Politik 2019
Hari-hari ini semua mata tertuju ke Rusia. Sudah separuh bulan. Tidak terasa. Kerapkali, mata yang ngantuk pun dipaksa untuk taat pada
hasrat untuk fokus ke Rusia. Mungkin, kekuatan kritis dalam benak terus
bertanya apakah hasrat dan kesukaan empat tahunan ini sedang memenjarakan
fokus khalayak?
Ataukah khalayak tidak mempunyai kesukaan lain, selain
mempercakapkan moment empat tahunan ini sebagai isu sexi? Padahal tato Messi
dkk tidak se"sexi" berita kekalahan telak PDIP dan Gerinda dalam
pilgub di beberapa provinsi.
"Messi yang diisolasi oleh pemain-pemain Perancis," begitu kata komentator di TV tidak bisa dibandingkan dengan kata pengamat politik bahwa Jokowi yang mulai keluar dari isolasi (sandera-red) PDIP seusai pilkada 2018.
"Messi yang diisolasi oleh pemain-pemain Perancis," begitu kata komentator di TV tidak bisa dibandingkan dengan kata pengamat politik bahwa Jokowi yang mulai keluar dari isolasi (sandera-red) PDIP seusai pilkada 2018.
Tetapi pikiran-pikiran liar ini kerap juga begitu massif ditayangkan
di media medsos, yang sesungguhnya hanya berfungsi untuk menciptakan branding
personal, tetapi ditayangkan secara public. Maka tak ayal, jaman now, persepsi
subyektif seolah-olah persepsi public. Lantas, siapapun mampu menjadi jurnalis
bagi dirinya sendiri.
Tak heran, sihir Ronaldo yang terkomunikasikan dalam
reputasinya sebagai bintang Real Madrid, dan pemain terbaik dunia, tidak segaris
dengan tekatnya untuk mengangkat tropi piala dunia bersama timnas Portugal.
Meme-meme lucu, unik, dan sarkas pun terbaca sebagai perang isu antara fans Messi vs Ronaldo. Fokus isi perspektif itu, bukan pada piala dunia tetapi pada perang klasik "Barca dan Real Madrid."
Meme-meme lucu, unik, dan sarkas pun terbaca sebagai perang isu antara fans Messi vs Ronaldo. Fokus isi perspektif itu, bukan pada piala dunia tetapi pada perang klasik "Barca dan Real Madrid."
"Semuanya wajar adanya," sepenggal syair lagu Padi yang berjudul "Lain Dunia". Saya yang amatiran dalam ruang lingkup ilmu komunikasi mencoba membuat sebuah proposisi, La Liga dan Piala Dunia harus didamaikan oleh konklusi yang mungkin gak nyambung, yakni "Lain Dunia." Mungkin harus dipaksakan, karena kolektivitas dan personal, juga Lain Dunia.
Ketika Messi sebagai pemain Barca, dan Ronaldo mencetak gol untuk memenang Real Madrid atas Barca dlm perang klasik, mereka sama-sama sebagai profesional sepak bola. Ketika membela timmas masing-masing, mereka tidak pernah saling mengalahkan dalam kompetensi itu, karena tidak segaris untuk bertemu.
Tetapi ternyata sama-sama diberi label baru dan isinya sama. "Ronaldo dan Messi mudik ke kampung." Mereka pun senasib, walaupun cara merespon nasib yang sama ini, jelas berbeda.
Khalayak medsos menulis "kemungkinan Messi dan Ronaldo ketemu di Bandara." Saya pun bertanya, mengapa fokusnya masih ke Messi dan Ronaldo. Bukan pada Argentina atau Portugal? Hmmmmmm....sudah dapat dipastikan tajih ilmu komunimasi seputar isu branding personal Messi dan Ronaldo sejauh ini masih lebih silau dari branding piala dunia.
Sekali lagi, semuanya wajar adanya, branding personal lebih mudah diracik ketimbang branding kolektif.
Mudiknya Ronaldo dan Messi, menjadi isu sexi krn reputasi pribadi yg mereka raih. Mereka berdua adalah news maker di desk liputan sepak bola.Untuk wartawan, Messi dan Ronaldo tidak mendapatkan trophy untuk negaranya masing-masing Argentina dan Poturgal, bukan lagi berita. Karena sudah biasa, klasik dan bukan barang baru.
Tetapi ketika Messi tidak bisa meraih trophy bersama Barca,
peristiwa ini menjadi headline karena kolektifitas sehebat Barca dipadu dengan
kejeniusan Messi, tidak membuahkan trophy. Begitu juga Ronaldo dan Real Madrid.
Branding kolektif hanya mudah diracik dalam kepentingan korporasi bisnis dan politik, sejauh koletivitas itu hanya satu tuan atau satu direktur yang kuat dan menentukan. Jika banyak direktur melakukan intervensi, tentunya focus kurang terjaga. Soliditas untuk bergerak sebagai organisme terpecah-pecah dalam peran antagonis yang massif.
Sedangkan Messi dan Ronaldo disebut "seniman bola," takaran kesanggupan personal lebih ditonjolkan. Potensi seperti ini akan menjadi sel yg menguatkan kolektivitas ketika timnya itu dikomandoi oleh satu tuan yang kuat untuk mengubah potensi personal menjadi potensi dalam tim menjadi organisme.
Branding kolektif hanya mudah diracik dalam kepentingan korporasi bisnis dan politik, sejauh koletivitas itu hanya satu tuan atau satu direktur yang kuat dan menentukan. Jika banyak direktur melakukan intervensi, tentunya focus kurang terjaga. Soliditas untuk bergerak sebagai organisme terpecah-pecah dalam peran antagonis yang massif.
Sedangkan Messi dan Ronaldo disebut "seniman bola," takaran kesanggupan personal lebih ditonjolkan. Potensi seperti ini akan menjadi sel yg menguatkan kolektivitas ketika timnya itu dikomandoi oleh satu tuan yang kuat untuk mengubah potensi personal menjadi potensi dalam tim menjadi organisme.
Bagi saya, potensi personal tidak akan sinergisitas ketika
potensi personalnya dikultuskan, seolah-olah di dunia jaman now ini hanya 2
pemain sepak bola, Ronaldo dan Messi. Padahal di lapangan, terlihat
jelas, masih ada tuh Mbappa (Perancis), Cavani (Urugay), Gabriel Jesus
(Brazil), dan pemain-pemain Belgia Eden Hazard atau Lukaku, juga pemain Jepang
yang masih sulit dihafal namanya.
Intrik Politik terbaca dalam
Meme Meme Bola
Belum selesai mendialektikan branding personal dan kolektif dalam piala dunia 2018, meme-meme Messi dan Ronaldo sudah dibingkai dalam pesan politik. Arah pesan meme-meme ini pada el classico antara PDIP vs Gerindra. Penanda bahwa khalayak medsos di Indonesia begitu cerdas.
Saya yang awam dalam politik, begitu tercengang ketika
seorang sahabat yang bukan politisi mengirim WhatsApp berisi meme wajah Messi berkostum Argentina.
Messi sedang menutup dahi dan mata dgn tangan kanan. Ada tulisan dlm meme itu : "moga-moga pada terima kekalahan, jangan kayak Partai G dan P (teman ini menyebut nama partainya) dan partai koalisinya. Jujur saya tidak berani memposting meme berisi pesan politik ini karena tidak mau terjebak dalam kapitalisasi pesan kebencian.
Messi sedang menutup dahi dan mata dgn tangan kanan. Ada tulisan dlm meme itu : "moga-moga pada terima kekalahan, jangan kayak Partai G dan P (teman ini menyebut nama partainya) dan partai koalisinya. Jujur saya tidak berani memposting meme berisi pesan politik ini karena tidak mau terjebak dalam kapitalisasi pesan kebencian.
Saya pun membayangkan, Ronaldo dan Messi saat ini sudah saling mendoakan karena mempunyai nasib yang sama, mudik ke kampung setelah idulfitri. Bahkan dalam meme, mereka berdua sama-sama menunggu bus di pinggir jalan, karena tidak ada halte.
Hanya sayangnya, fansnya masing-masing di Indonesia, belum
saling mendoakan. Masih terbela. Karena piala presiden baru terjadi pada tahun 2019.
Masih satu tahun lagi. Maka wajar adanya, mereka masih saling memperbincangkan
Barca ketemu Ronaldo gak di final piala presiden? Atau Messi ketemu Real Madrid
gak yah di piala presiden 2019?
Sambil menunggu jawaban ini, marilah kita focus ke Rusia,
sambil menunggu final world cup 2018 tanpa Messi dan Ronaldo. Walaupun sebagian
dari khalayak politik, dan berharap "Ronaldo" di koalisiku, masih
bertemu dan "Messi" di koalisi sana, dalam perang El Classico pada
Liga Pilpres Indonesia, 2019. Walaupun demikian, tidak banyak khalayak yang
bertanya apakah Zuares, Mbapa atau Jesus, dll muka baru untuk merebut tropy di
liga pilpres 2019?.
Semestinya pertanyaan ini harus dipikirkan sebagai bagian
dari kesiapan untuk Liga Pilpres 2019, pasalnya dalam piala dunia ini, branding
personal begitu mudah dipatahkan oleh racikan tim yang kompak. Sedangkan di
lapangan politik menyongtong Pilpres 2019 nanti, sudah mulai kelihatan nasionalisme yang begitu dicabik-cabik di
tengah panggung pengkultusan dan kepuasan terhadap branding personal yang begitu
menguat dari hari ke hari. (stefan kelen)


Tidak ada komentar