Diskusi Ama Jakarta, Ciptakan Lapangan Kerja Baru
![]() |
| Diskusi Ama Jakarta, di Jakarta Sabtu 8 Juli 2017 |
JURNALTIMUR.COM,- Pembukaan lapangan kerja baru merupakan
cara untuk mempertemukan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang
diperuntukan bagi kesejahtaraan masyarakat. Sementara untuk membuka lapangan
kerja baru, hal itu bisa dimulai dari masyarakat terutama angkatan kerja, bisa
juga datang dari pemerintah.
Pendapat ini mengemuka dalam diskusi bertemakan “Strategi
Membangun Flores Timur dengan Potensi Sumber Daya Alam melalui Peningkatan
Sumber Daya Manusia," yang diselenggarakan Angkatan Muda Adonara (AMA) Jakarta, di Markas Adonara Bakti Bangsa
(ABB), Jl.Bungur Besar Raya No.54E, Senen,Jakarta Pusat, Sabtu (8/7/2017) sore.
Diskusi yang dipandu Advokat Muda Hendrikus Hali Atagoran ini menghadirkan
narasumber Ketua Tite Hena yang juga praktisi Teknologi Informasi, Simon Lamakadu, Aktivis Mat Ryantoby dan
Benjamin Tukan dari JurnalTimur. Kegiatan diskusi ini merupakan kegiatan yang
berkenaan dengan pelantikan pengurus Ama Jakarta periode 2017-2018.
Simon Lamakadu, dalam paparannya mengatakan, Kabupaten Flores Timur memiliki sumber daya alam yang luar biasa banyak, hanya
saja sumber daya alam yang ada itu belum dikelola secara maksimal untuk
meningkatkan kesejahteraan bersama.
"Persolan kita ada pada sumber daya manusia, bukan
pada sumber daya alamnya. Tuhan begitu baik menyiapkan kekayaaan alam, tetapi
kemampuan kita untuk mengolahnya masih kurang. Ini pekerjaan rumah terbesar
untuk orang Flores Timur,"kata Simon Lamakadu.
Menurut Simon Lamakadu,
alasan minimnya kemampuan manusia dikarenakan pendidikan yang ada tidak
menciptakan tradisi berwirausaha dan tidak menghasilkan lulusan yang trampil
dan siap pakai.
“Banyak dari masyarakat kita yang tidak terbiasa
berdagang, ataupun tidak terbiasa setelah lulus memutuskan untuk membuka kerja di sektor
informal. Karena itu sulit juga membayangkan adanya produk-produk turunan yang
bisa dipasarkan. Padahal produk turunan inilah yang lebih menjanjikan dalam segi ekonomi," ujarnya.
Dia berharap dan mengajak generasi muda Flores Timur untuk
aktif membuka lapangan kerja baru dengan memberi nilai tambah pada
produk-produk sumber daya alam yang tersedia.
"Kita tidak harus mengirimkan kelapa ke luar untuk
dijual tapi bisa juga mengirimkan minyak goreng, santan yang sudah dikemas,
sabuk kelapa dan lain," katanya.
Dengan adanya perhatian pemerintah terhadap desa dengan
pemberian dana desa yang besar, katanya, bisa menjadi pintu masuk membangun
industri rumahan di tingkat desa.
"Memang peluang semacam ini tidak banyak dilihat
masyarakat Flores Timur dan hanya dilihat oleh orang luar yang datang ke sana.
Karena itu, para mahasiswa yang sudah belajar di luar daerah yang melihat
perkembangan yang terjadi di tempat-tempat lain di luar Flores Timur, bisa
kembali dan membuka lapangan kerja baru," ajaknya.
Mat Ryantoby dalam paparannya mengatakan, untuk mencapai
kemampuan berwirausaha diperlukan usaha yang tak kenal lelah dalam pengembangan
diri. Pengembangan diri ini kata dia, penting karena dapat membuat setiap pribadi
bertanggung jawab pada pilihannya dan mampu membaca peluang.
"Sebenarnya potensi itu banyak, tapi kembali pada
diri kita sendiri. Banyak peluang yang bisa didapatkan, tapi tidak
dilakukan. Banyak yang sarjana tapi hanya menunggu tes PNS (Pegawai Negeri
Sipil-Red)" ujarnya.
Dia mengingatkan agar generasi muda sudah mulai membuat
keputusan untuk kembali ke kampung dan
membuka usaha-usaha baru. Namun menurutnya, dalam membuka usaha harus
dipersiapkan nilai kejujuran, dan kemampuan sehingga usaha bisa bertahan lama.
"Demi mengejar kebutuhan orang sering menempuh jalan
pintas. Buka bengkel tapi tidak punya keahlihan. Akibatnya, usaha hanya
bertahan beberapa waktu saja," katanya.
Pemerintah
Benjamin Tukan, menyoroti
peran pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja dan tradisi berwirausaha di
kalangan masyarakat. Pemerintah dinilai punya peran yang besar dan memiliki sumber daya yang besar.
Pemerintah pun bisa memulai menciptakan tradisi berwiraswasta mulai dari
lingkungan terdekat yakni lingkungan birokrasi.
Birokrasi harus diarahkan untuk melayani masyarakat, seleksi dan penempatan jabatan harus berdasarkan kemampuan dan
kebutuhan. Demikian juga setiap proses mesti transparan dan akuntabel. Hal ini
berlaku juga dalam penentuan tender-tender proyek.
Menurut Benjamin, birokrasi di Flores Timur adalah sumber daya terbesar
yang dimiliki pemerintah saat ini, bukan pengurus partai, bukan juga tim sukses.
Kata Benjamin, daripada Bupati dan Wakil Bupati begitu cepat memilih datang ke masyarakat, lebih baik perbaiki dulu sistimnya, dan
berdayakan birokrasi sebagai agen terdepan pemerintah yang hadir untuk melayani
dan membangun inisiatif-inisiatif masyarakat.
"Semua harus bekerja untuk mewujudkan kesejateraan
bersama. Jangan tunjukan kepada masyarakat bahwa orang yang tidak punya
kemampuan bisa mendapat kerja dan sukses hanya karena dia dekat dengan
kekuasaan," kata Benjamin. (*)

Tidak ada komentar