Ketika Berlumpur di Sawah itu Menyehatkan
![]() |
| Take Wisatawan Jepang sedang menikmati liburan bersama petani sawah di Detusoko (Foto (Nando Watu) |
JURNALTIMUR.COM,-
Bersawah itu menyehatkan. Ketika kamu membenamkan kaki dalam lumpur, telapak
kaki terasa terkoneksi dengan seluruh organ tubuh. Kenapa tidak mencobanya?
Tanah di sawah begitu dingin. Air yang mengalir membawa
kesegaran. Segala yang subur di tanah sawah, tentu berpengaruh pada kesehatan.
“Aksi masuk dalam lumpur itu semacam terapi. Bersawah itu
bagus sebagai sebuah opsi untuk kesehatan,” kata Take, salah seorang wisatawan Jepang
yang berlibur di Detuskoko, Ende-Flores beberapa hari Lalu.
Selama di Detusoko, Take pria 36 tahun ini menghabiskan
waktu dengan kegiatan bertani, menamam padi di sawah bersama warga. Dia menjelajahi berbagai warisan tradisi Suku Lio
terkait dengan pola pertanian tradisional juga menjelajahi arsitek-arsitek
lokal.
Dihadapan Para petani, dia mengharapkan untuk tetap menjaga
nilai-nilai tradisi dan budaya, tetap pelihara benih lokal dan juga penting
untuk mengolah pertanian organik.
"Kalian harus bisa menjaga nilai budaya yang diwariskan
leluhur, tanaman organik itu sangat bagus untuk kesehatan," katanya kepada
para petani.
![]() |
| Duduk berceritra dengan para petani merupakan bagian dari kegiatan berwisata (Foto : Nando Watu) |
Dia menjelaskan, ketika bersawah kaki kita yang berlumpur
langsung berkoneksi dengan organ-organ tubuh sepeti jantung, paru-paru, lambung
hati dan semua organ dalam.
“Saya sangat senang dan bahagia berada di Detusoko karena
bisa makan nasi yang diolah secara organik, dan banyak sayuran hijau. Kesukaan
saya adalah nasi hitam. Sangat enak, “ tutur pria yang sudah setahun lebih
berada di Bandung ini.
Dosen bahasa Jepang di salah satu perguruan tinggi di
Bandung ini, menghabiskan waktu Selama berlibur di Detusoko dengan berinteraksi
dengan para petani dan warga setempat.
Di sela sela perjalanannya bersama kawan kawan Muda RMC, dia
menyempatkan waktu berdiskusi terkait beberapa warisan peninggalan Jepang di
Detusoko.
Roland salah Satu guru d SMPK Marsudirini mengatakan, ada warisan peninggalan Jepang di
Detusoko. Menurut ceritra dari orangtuanya, dulu tentara Jepang dikenal dengan
Nippon, markas mereka dulu adalah bangunan yang sekarang menjadi lokasi biara
Susteran OSF.
“Nipon dulu membangun kawasan Air Panas Petu Podo.
Pembangunan sekitar tahun 1942 dan juga lapangan bola kaki yang dulu menjadi
tempat pembantaian para serdadu Jepang yang ketika Sakit. Mereka dibunih karena takut terjangkit penyakit,” katanya.
Selama di Detusoko, selain berinteraksi dengan para petani,
Take juga menyempatkan waktu bermain dengan anak-anak, berendam di kolam Air
Panas, Bersawah, menangkap ikan di kolam, mengunjungi Kelimutu, kampung Adat
Wologai, juga menjelajahi beberapa arsitek Tradisonal. (Nando Watu)


Tidak ada komentar