Silaban, Seorang Kristen yang Merancang Mesjid Istiqlal. Soekarno pun Bisa Salah
JURNALTIMUR.COM,- Jika anda melewati Mesjid Istiqlal,
Jakarta Pusat, anda tidak akan menyangka mesjid termegah di Asia Tenggara pada
zamannya itu adalah buah karya seorang arsitek penganut Kristen Protestan.
![]() |
| Friedrich Silaban |
Dialah Fredrich Silaban. Bung Karno menjulukinya sebagai
by the grace of God ketika karya Silaban yang berjudul Ketuhanan memenangi
sayembara disain Mesjid Istiqlal pada 1955. Selain Mesjid Istiqlal, dia juga
merancang bangunan Monumen Nasional dan Gelora Senayan.
Atas berbagai karyanya itu, Silaban mendapat tanda
kehormatan Satya Lencana Pembangunan yang disematkan Presiden Soekarno,
presiden pertama Republik Indonesia, pada 1962.
Silaban lahir pada 16 Desember 1912, di Bonandolok, Sumatera Utara. Arsitektur sudah menjadi bagian besar hidupnya.
Karena arsitektur pula Silaban punya
hubungan cukup akrab dan unik dengan Bung Karno. Keduanya kerap berselisih
pendapat, tapi dalam perselisihan itu tidak jarang Bung Karno mengakui bahwa
dirinya yang keliru dan Silabanlah yang benar.
“Saya sudah bekerja 47 tahun terus menerus sampai
sekarang, tetapi belum pernah ada pemimpin yang mengaku salah pendapat terhadap
saya, selain dari Bung Karno.
Contoh untuk ini saya sebutkan antara lain
masalah kompleks Bangunan Olah Raga (sebelumnya Asian Games) Senayan”, kata
Silaban kala itu seperti dikutip dari www.silaban.net.
Dia pernah melempar kritik atas lokasi Asian Games di
Duku Atas. Perkiraanya, jika ada gelaran olahraga di Asian Games Complex, jalan
di kawasan itu akan macet total.
"Kalau Presiden tokh mempertahankan tanah Duku Atas
itu dengan rencana Rusia yang pada hari ini saya lihat, maka saya khawatir
bahwa kelak anak-anak Guntur akan nyeletuk kok, kakek kami bodoh amat membuat
kompleks stadion begitu”, demikian kritik Silaban kepada Bung Karno.
Menurutnya, ketika itu Bung Karno berkomentar, “Ya, Presiden Soekarno yang salah dan Silaban yang benar”. Itulah kenangan yang tidak pernah dilupakannya sampai akhir hidupnya.
Pada zaman kolonial, Silaban mengukir prestasi gemilang. Sebut saja, pada 1935 dia memenangkan sayembara perencanaan rumah walikota Bogor, juga sejumlah hotel.
Silaban juga pernah mendapat pujian dari gubernur
jenderal Hindia Belanda saat itu gara-gara karyanya membuat monumen mengenang
orang-orang Belanda yang gugur melawan Nazi Jerman di Perang Dunia II.
Silaban merampungkan pendidikan formal di H.I.S.
Narumonda, Tapanuli pada 1927, Koningen Wilhelmina School (K.W.S.) di Jakarta
pada 1931, dan Academic van Bouwkunst Amsterdam, Belanda pada 1950.
Lantas, dia
bekerja sebagai pegawai Kotapraja Batavia, Opster Zeni AD Belanda, Kepala Zenie
di Pontianak Kalimantan Barat pada 1937, dan kepala DPU Kotapraja Bogor hingga
1965.
Pada 14 Mei 1984 Silaban tutup usia di RSP AD Gatot Subroto, Jakarta, karena komplikasi beberapa penyakit. Sampai akhir hayatnya dia masih menjabat sebagai Wakil Kepala Proyek Pembangunan Mesjid Istiqlal Jakarta. (Oa)

Tidak ada komentar