Raja Thailand Bhumibol, Pemimpin Sederhana yang Dicintai Rakyatnya
JURNALTIMUR.COM,- Raja Thailand,
Bhumibol Adulyadej, meninggal dunia, hari Kamis (13/10), pada usia 88 tahun.
Dalam 10 tahun terakhir, Raja Bhumibol menderita sakit yang membuat kondisinya
memburuk dan jarang tampil di hadapan
publik.
Selama hidup, Raja Bhumibol
Adulyadej sangat dihormati rakyat
Thailand bahkan rakyat menempatkannya sebagai bapak bangsa. Di setiap masalah
dan konflik yang dihadapi Thailand, sosok pribadi yang sangat sederhana ini
selalu tampil sebagai penengah dan selalu menemukan solusi tanpa kekerasan.
Bhumibol Adulyadej lahir di
Cambridge, Massachusetts, AS pada 5 Desember 1927, saat ayahnya, Pangeran
Mahidol Adulyadej, sedang berkuliah di Universitas Harvard. Ayahnya meninggal
saat dia berusia dua tahun.
Bhumibol yang merupakan
anggota Dinasti Chakri ini menempuh pendidikan di Sekolah Mater Dei-Bangkok dan
kemudian melanjutkan SLTA ke Lausanne ketika sebagian keluarganya pindah ke
Swiss. Ia kemudian belajar hukum dan ilmu politikdi Universitas Lausanne.
Sebagai lelaki muda, Bhumibol
mempunyai kegemaran berbudaya seperti fotografi, bermain saksofon,
melukis, dan menulis. Ia memiliki minat yang besar terhadap sastra Perancis,
Latin dan Yunani. Ia penggemar musik jazz dan lagu kontempore. Ia
adalah anggota kehormatan dari Institut Musik dan Seni Wina
Sejak 9 Juni 1946 Bhumibol naik
takhta menggantikan kakaknya Ananda Mahidol. Saat itu usianya 19 tahun.
Ananda Mahidol, meninggal dalam insiden penembakan yang sampai sekarang tidak
jelas penyebabnya di Istana Kerajaan di ibu kota Bangkok. Dalam bidang
olahraga, ia juga banyak prestasi diraihnya.
Masa tahun-tahun awalnya sebagai
seorang raja, Thailand dipimpin oleh seorang 'pemimpin sementara' karena
Bhumibol harus melanjutkan studinya di Swiss.
Ketika mengunjungi Paris 1949,
dia bertemu calon istrinya, Sirikit, anak perempuan dari duta besar Thailand
untuk Prancis. Keduanya bertunangan dan menikah pada 28 April 1950 atau
seminggu sebelum raja baru dinobatkan di Bangkok. Pernikahan keduanya
membuahkan empat anak, yaitu seorang putra dan tiga putri.
Kepemimpinannya mendapat tempat
di hati rakyat karena sentuhan-sentuhan pribadinya. Ketika rakyat
menghadapi berbagai persoalan, ia tidak bisa diam dan terjun langsung dalam
persoalan itu. Kudeta militer menjadi tabu saat ia berkuasa. Seluruh negeri
bergabung untuk merayakan ulang tahun Raja Bhumibol yang ke-80 pada 2008,
mencerminkan keunikan statusnya di masyarakat Thailand.
Raja Bhumibol dikenal juga sebagai raja yang menganjurkan agar siapa pun dapat menerima
kritik. Pernah ia mengatakan kepada Perdana Menteri Thaksin Shinawatra agar
bersedia menerima kritik karena itu adalah konsekuensi sebagai pemimpin.
"Saya juga mesti
dikritik. Saya tidak takut jika kritikan tersebut terkait dengan kesalahan yang
saya lakukan karena dengan begitulah saya sadar telah melakukan kesalahan. Jika
raja dikatakan tidak bisa dikritik, itu artinya raja bukan manusia,"
katanya pada pidato ulang tahun di tahun 2005.
"Anggapan bahwa raja
tidak mungkin berbuat salah adalah penghinaan karena itu artinya raja bukan
manusia. Saya bisa berbuat salah dan saya tidak takut dikritik langsung,"
kata sang raja.
"Saya ingin menyatakan kalau
saya bisa dikritik. Mungkin saya kadang-kadang membuat kesalahan. Kasih tahu
saya saja kalau memang saya salah. Dan kalau seseorang mengkritik Raja, saya ingin
tahu mengapa? Saya salahnya di mana?" ungkapnya.
Keteladanan serta integritas Raja
Bhumibol dirasa pantas diambil contoh. Hak dan kesejahteraan petani pun diambil
seperti terlihat dengan kebijakan impor beras. Baginya, petani adalah
segalanya.
Raja juga mengharapkan kepada para politikus, aparat negara, dan
segenap lapisan masyarakat untuk tidak selalu melibatkan raja agar terjadi
proses pembelajaran politik di negaranya.
Selama masa pemerintahannya yang
panjang, Raja Bhumibol Adulyadej menghadapi negara yang terus-menerus mengalami
pergolakan politik. Dalam
menghadapi politik, terlihat kecakapannya sebagai seorang diplomat, dan
kemampuannya untuk 'merangkul' warga sipil di Thailand.
Sejak Agustus 2015, Raja Bhumibol
masuk ke Rumah Sakit Siriraj, Bangkok untuk mendapatkan perawatan. Sejak
itu, kondisinya tidak banyak membaik. Pada Kamis (13/10) ia meninggal dunia.
Para pengamat asing dan lokal
menilai peluang putra Raja Bhumibol, Pangeran Vajiralongkorn (64) untuk
menduduki tahta jika Raja Bhumibol mangkat sangat besar. (dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar