BreakingNews

Korupsi dan Ketidakadilan, Dhakidae Anjurkan DPR Baca Buku Max Havelaar



JURNALTIMUR, Sosiolog Daniel Dhakidae menganjurkan agar buku Max Havelaar karya Multatuli tidak hanya dibaca oleh anak sekolah melainkan juga oleh mahasiswa, profesor dan yang lebih penting adalah anggota DPR. 

Dhakidae bahkan menyarankan agar anak-anak sekolah pergi ke senayan membagikan satu persatu buku  kepada anggota DPR dan minta untuk dibaca.

Daniel Dhakidae (Foto: Kompas)
Daniel Dhakidae mengatkan hal itu saat tampil sebagai pembicara simposium bertema “Para Pembongkar Kejahatan Kolonial: Dari Multatuli Hingga Sukarno” di Museum Nasional, Jakarta, Sabtu (17/9/2016). 

Menurut Dhakidae, tidak ada buku yang relevan saat ini dari buku Max Havelaar, karena disana bicara keadilan. 

Buku Max Havelaar, kata Dhakidae membicarakan tentang orang kaya yang tidak peduli darimana asal kekayaan.

“Buku ini memiliki relevansi yang tinggi untuk saat ini karena di buku ini yang dibicarakan adalah keadilan," kata Dhakidae.

Menurut Dhakidae,  Indonesia pasca reformasi menjadikan ketidakadilan  semakin kuat. Segelintir konglomerat  menguasai hampir 70 persen asset. 

Dhakidae menjelaskan, buku Max Havelaar merupakan buku pertama yang dibaca kaum nasionalis Indonesia.  Buku ini pun, kata Dhakidae merupakan salah satu buku  terbaik dari 10 buku  yang dianjurkan Sigmund Freud.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh HB Yasin dinilai Dhakidae merupakan terjemahan yang sangat indah, walau beberapa hal hilang dalam terjemahan.


"Buku ini dibaca bukan untuk diakui kehebatan karya sastra tetapi untuk didengar, karena di sana  ada orang yang diperlakukan tidak adil," kata Dhakidae. 

Melalui pembahasan tentang buku Max Havelaar dalam simposium ini, Dhakidae mengharapkan agar setiap perencanaan pembangunan dapat juga menghargai sejarah.  (Ben)



Tidak ada komentar