BreakingNews

Dua Pahlawan dari Timur Indonesia Diabadikan di Mata Uang Rupiah



JURNALTIMUR,-Presiden Joko Widodo sudah menetapkan 12 pahlawan nasional untuk diabadikan dalam gambar mata uang rupiah kertas dan logam. Dari 12 nama itu, dua di antaranya berasal dari wilayah timur Indonesia. Mereka adalah Frans Kaisepo asal Biak, Papua, dan Prof. Dr. Ir. Herman Johanes asal Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

Gambar pahlawan nasional Frans Kaisiepo akan dijadikan sebagai gambar pada bagian depan rupiah kertas dengan pecahan Rp10.000, sedangkan gambar pahlawan nasional Herman Johanes sebagai gambar bagian depan rupiah logam dengan pecahan Rp100.

Penetapan itu termuat dalam Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 2016 tentang Penetapan Gambar Pahlawan Nasional sebagai Gambar Utama pada Bagian Depan Rupiah Kertas dan Rupiah Logam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya, penyusunan disain dan penerbitan akan diurus oleh Bank Indonesia.

Herman Johanes lahir di Rote, 28 Mei 1912. Karena pandai, dia mengantongi beasiswa bersekolah di Technische Hogeschool (THS) Bandung. Si penyuka ilmu fisika ini pernah diminta untuk membangun laboratorium senjata bagi Tentara Nasional Indonesia.

Laboratorium yang terletak di bangunan Sekolah Menengah Tinggi Kotabaru ini berhasil memproduksi bermacam bahan peledak untuk kepentingan perjuangan.
Herman pernah terlibat dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 dan menjadi saksi sumbangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX kepada perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 1960-an, Herman yang akrab disapa Pak Jo ini kembali ke kampus, menjabat guru besar dan rektor Universitas Gadjah Mada. Dia aktif sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat pada 1945-1946, serta pernah menjabat sebagai menteri pekerjaan umum dan rekonstruksi pada 1950-1951 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1968-1978. Herman wafat pada 1992, dimakamkan di Yogyakarta.

Sementara, Frans Kaisiepo dikenal sebagai penggagas nama Irian, singkatan dari Ikut Republik Indonesia Anti Netherland, untuk menggantikan nama Papua. Konon, kata Irian diambil dari bahasa Biak yang berarti panas atau daerah panas.

Pria yang lahir di Biak, 10 Oktober 1921, ini mencetuskan Partai Indonesia Merdeka di Biak pada 1946. Pada tahun yang sama, Frans menjadi anggota delegasi pada konferensi Malino di Sulawesi Selatan yang dipelopori HJ Van Mook. Frans menjadi putra asli Irian Jaya dalam konferensi tersebut.

Sebagai pembicara, dia mengusulkan supaya nama Papua diganti dengan nama Irian. Frans termasuk anggota delegasi yang menentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) sebab NIT tanpa Irian Jaya. Usulnya, Irian Jaya masuk karisidenan Sulawesi Utara.

Pada 1961, Frans Kaisiepo mendirikan Partai Politik Irian yang menuntut penyatuan kembali Nederlands Nieuw Guinea ke dalam kekuasaan Republik Indonesia.

Di dunia pemerintahan, Frans pernah menjadi gubernur Irian Jaya. Lantas, pada 1972 dia diangkat menjadi anggota MPR, lalu menjadi DPA RI. Dia mangkat pada 10 April 1979, dimakamkan di Biak. Atas jasa-jasanya, pemerintah menganugerahi penghargaan Trikora dan Pepera kepada Frans. Pada 1984 namanya diabadikan sebagai nama bandara di Biak.

Ilustrasi
Selain Herman Johanes dan Frans Kaisiepo, berikut 10 nama pahlawan nasional yang akan dijadikan gambar uang rupiah NKRI:
- Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai gambar utama bagian depan rupiah kertas dengan pecahan Rp100.000
- Ir. H. Djuanda Kartawidjaja sebagai gambar pada bagian depan rupiah kertas dengan pecahan Rp50.000
- Dr. G.S.S.J. Ratulangi sebagai gambar pada bagian depan rupiah kertas dengan pecahan Rp20.000
- Dr. K.H. Idham Chalid sebagai gambar pada bagian depan rupiah kertas dengan pecahan Rp5.000
- Mohammad Hoesni Thamrin sebagai gambar pada bagian depan rupiah kertas dengan pecahan Rp2.000
- Tjut Meutia sebagai gambar pada bagian depan rupiah kertas dengan pecahan Rp1.000
- I Gusti Ketut Pudja sebagai gambar pada bagian depan rupiah logam dengan pecahan Rp1.000
- Letnan Jenderal TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang sebagai gambar pada bagian depan rupiah logam dengan pecahan Rp500
- Dr. Tjiptomangunkusumo sebagai gambar pada bagian depan rupiah logam dengan pecahan Rp200 (OA)

------------- 



Redaksi menerima tulisan berbentuk artikel, laporan perjalanan, dan opini. Pengiriman disertai alamat email dan nomor telpon/HP. Redaksi berhak mengedit tanpa mengubah substansi isi. Kirim artikel, laporan perjalanan, dan opini  ke email : redaksijurnaltimur@gmail.com

Tidak ada komentar