Kampung Bena Magnet Ekowisata
![]() |
|
Kampung Bena dari sisi pintu masuk,
terdapat 45 rumah adat yang terawat dengan baik di kampung ini. (Foto:
FBC/Pudji)
|
Bukan hanya pesona alamnya yang
elok dan magis, di kampung adat yang berlokasi di lereng Gunung Inerie ini
potensial untuk dijadikan lokasi ekowisata. Pariwisata berbasis konservasi
lingkungan dan budaya. Seperti apa?
BERADA di ketinggian sekitar 750
meter di atas permukaan laut (dpl) tidak terlalu sulit untuk menjangkau Kampung
Adat Bena yang berjarak sekitar 19 kilometer arah Selatan kota Bajawa, ibukota
Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jalan hotmiks selebar 4 meter
berkelok-kelok dengan perkebunan kopi di sisi jalan menjadi teman perjalanan
yang mengasyikkan sebelum tiba di gerbang kampung yang secara administratif
masuk wilayah Desa Tiworewu, Kecamatan Cerebe’u, Kabupaten Ngada ini.
Kampung seluas kurang lebih 3
hektar ini di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Beja, Kecamatan Bajawa dan
Desa Rakateda, Kecamatan Golewa. Di Selatan berbatasan dengan Desa Watumanu, di
Timur dengan Desa Dariwali dan di Barat menjulang Gunung Inerie, atau orang setempat
menyebut sebagai gunung mama. Salah satu gunung paling ‘megah’ di daratan
Flores.
Begitu tiba di Kampung Bena,
jarum jam seolah berhenti berdetak. Kita akan dibawa melayang ke masa peradaban
megalitikum. Kampung yang berdiri di atas bukit berfondasi bebatuan besar yang
disusun rapi ini memiliki sekitar 45 rumah adat yang terpelihara dengan baik.
Bisa jadi, pendirian kampung di
atas bukit dengan dilapisi bebatuan ini sebagai bentuk pertahanan diri terhadap
musuh. Seluruh rumah berdiri membujur di sisi kanan dan kiri dan menyisakan
tanah lapang di tengahnya. Di tempat inilah didirikan dua rumah kecil untuk
pemujaan nenek moyang yang disebut bhaga. Terdapat juga compang yang
menjadi altar persembahyangan kepada leluhur.
Rumah pemujaan untuk
menghubungkan dengan leluhur laki-laki disebut nga’dhu yang bercirikan
atap jerami berbentuk payung, dengan ukiran kuda di bawah pintu. Sedangkan
rumah untuk berhubungan dengan leluhur perempuan dinamai sakapu’u yang
memiliki ciri khas, boneka dari jerami di ujung atapnya.
Selain itu, media pemujaan kepada
nenek moyang dilakukan di timbunan bebatuan yang menyangga batu pipih lebar
yang berfungsi sebagai panggung atau biasa disebut sebagai terse
Suasana kian magis, karena di
kampung ini terdapat empat menhir yang hingga sekarang dipuja karena di titik
inilah masyarakat Bena terhubung dengan para leluhur mereka.
Lima menhir yang dikeramatkan itu
adalah ine thegu yang merupakan perwujudan perempuan penyihir (black
magic women), jhoga sebagai perwujudan perempuan penumbuk padi, dhegu
geke sebagai pelindung, serta dhela lere simbol kekuatan. Menhir dhegu
geke ini berlokasi di tubir jurang dan melekat tipis dengan batu penyangga
dasarnya. Konon, saat gempa dahsyat menggoyang Flores pada 1992, menhir ini
tidak bergoyang, bergeser seinci pun tak.
Terakhir, watu wisu noa
yang berbentuk mesin kapal dan merupakan ruh sekaligus jantung kampung ini.
Hanya sepelemparan batu dari menhir terakhir ini terdapat gua kecil dengan
patung Bunda Maria yang diletakkan di anak bukit di mana kita bisa memandang
seluruh kampung dari sisi belakang. Dari lokasi ini, kita bisa menatap gagahnya
Gunung Inerie yang menjulang.
![]() |
|
Rumah kecil untuk pemujaan kepada
nenek moyang yang disebut bhaga. (Foto: FBC/Pudji)
|
Sementara di lokasi tanah lapang
yang lebih ke belakang akan ditemui sejenis meja batu atau dolmen,
dengan cekungan seukuran piring. “Dari cekungan seukuran piring inilah nama
Bajawa bermula. Ba artinya piring, jawa ya Jawa. Bajawa artinya
piring dari Jawa,” kata Yoseph Rojagale (87), Ketua Lembaga Adat Bena sembari
mengambil pecahan piring celadon era Dinasti Song (960-1279) dari balik
tumpukan lempengan batu.
Masih menurut Yoseph, kota Bajawa
sebelum digeser sejauh 19 kilometer ke arah Utara dari Kampung Bena, semula ada
di kampung tersebut.
Asal-Usul
Berdasar sejarah lisan seperti dituturkan Yoseph, Kampung Bena yang berbentuk perahu dengan ujung layar tertinggi di depan, dan ruang mesin serta buritan di belakang atau sisi Selatan itu berasal dari imigran Jawa. Tepatnya berasal dari Pati, Jawa Tengah, yang bermigrasi sekitar 1.200 tahun lalu.
“Kampung ini dibangun oleh Bena
lelaki asal Pati, Jawa Tengah, yang bermigrasi sekitar 1.200 tahun lalu bersama
sembilan saudaranya: Ngadha, Wato, Deru, Siga, Dizi, Raba, Kopa, dan Ago.
Sembilan bersaudara inilah yang akhirnya membentuk klan (suku) di sini sesuai
namanya dan tinggal bersama di Bena. Mereka berlayar dari Pelabuhan Juwana,
Pati, Jawa Tengah. Karena badai merusak perahu mereka lalu berganti perahu di
Pelabuhan Tuban, Jawa Timur. Makanya perahu yang kemudian berubah wujud menjadi
kampung ini kami namai perahu tuban,” kata Yoseph yang begitu meyakinkan.
Yoseph yang mengaku pernah
menjadi asisten pribadi Mgr. Soegijapranata Uskup Agung Semarang pada tahun
1950-an ini menduga, Bena dan saudaranya terusir dari Pati karena perbedaan
keyakinan dalam kepercayaan Kejawen dengan warga kebanyakan.
“Ketika tinggal di Semarang, saya
sempat menelusuri jejak kampung saya di Pati. Saya bertemu sesepuh penghayat
kepercayaan, namanya Pak Cokro yang menjelaskan kepada saya, memang demikian
ceritanya. Persembahan kepada leluhur berupa hati ayam dan nasi putih yang
melambangkan keberanian dan kesucian yang ada di Pati juga ada di Bena,” kata
Yoseph yang mahir beragam bahasa mulai Bena, Jawa, Latin, Belanda, dan tentu
Inggris ini. Yoseph sendiri beristrikan orang Jawa asal Purworejo, Jawa Tengah.
![]() |
|
Salah satu menhir dari empat menhir
yang berada di kampung tersebut. (Foto: FBC/Pudji)
|
Sementara menurut Paul Arndt, SVD
(2009: 457) Bena (bi bena) yang maknanya bertumbuh atau bertambah banyak
merupakan bagian dari klan Jawa Ledo yang berasal dari Nebe Meze
yang merupakan nama julukan Ngadha, sebagai ibu asal.
Klan-klan lain kemudian bergabung
membentuk kampung besar yang disebut loka di Kampung Bena yang sekarang
ini. Hingga kemudian terjadi pembagian tanah dan Bena mendapat hak milik atas
tanah serta hak pakai atas tanah Tewe Au di lembah Jere Buu.
Masih menurut Arndt, orang yang
bertugas membagi tanah ini adalah Jawa Lizu (lizu: langit; Jawa:
Jawa). Selain itu, Bena mendapat hak pimpinan tertinggi atas pesta reba.
Dahulu dalam ‘permulaan zaman’, klan-klan itu sudah menetapkan tata aturan
pesta reba, dan mereka sudah membentuk satu persatuan dan berjanji
menaati peraturan pesta reba itu. Sebagai ungkapan dan kenangan akan
janji tersebut didirikanlah bangunan batu, yang hingga hari ini masih ada di
jalan keluar Kampung Bena, ulu nua. Entah informasi mana yang sahih,
yang pasti Kampung Bena hingga kini masih setia merawat kebiasaan nenek moyang
mereka, dan selalu disambangi puluhan wisatawan setiap harinya.
Penulis: EC. Pudjiachirusanto
Sumber : Floresbangkit.com



Tidak ada komentar