BreakingNews

Yung Sing Lim Kagumi Arsitektur Rumah Adat Flores

Arsitektur  Rumah Adat Flores (Foto : Nando Watu)

JURNALTIMUR.COM,- Keindahan dan kekayaan alam dan tradisi masyarakat Flores khususnya masyarakat Detusoko- Ende,  selalu saja mengundang decak kagum dan selalu menjadi insipirasi baru bagi generasi kini dan akan datang.

Hal ini pula yang menggugah arisitek Yu Sing Lim datang ke Detusoko-Ende, 5-8 Januari 2017. Ia menyempatkan waktu berkunjung ke Pusat Pemberdyaan Kaula muda Desa Detusoko yang dikenal dengan nama RMC (Remaja Mandiri Community),  kampung Adat Wologai dan Kampung Adat Nggela, danau Kelimutu dan melihat aktivitas warga Lokal Suku Lio.

Yu Sing  Lim dikenal sebagai arsitek muda dengan karya-karya arsitekturnya yang unik. Arsitek kelahiran  Bandung pada 5 Juli, 36 tahun silam ini, menyempatkan waktu berkeliling kampung di seputaran Detusoko, dan melihat Rumah Adat Desa Wologai dan Kampung Adat Nggela.

Di Detusoko, Wologai dan kampung Nggela, Yu Sing begitu mengagumi dan takjub dengan bangunan-bangunan lokal, semisal rumah Adat yang dibangun dengan sangat detail, memiliki cita rasa estetika yang begitu tinggi. Pembangunan rumah adat pun selalu mengedapankan material lokal yang berada di sekitar kampung.

Dalam masyarakat Ende-Flores, tradisi membangun rumah adat  yang sangat ramah lingkungan dengan bahan kayu, batu, ijuk, bambu sudah menjadi kebiasaan. Pembangunan yang alami selalu dipandang sebagai bentuk menjaga lingkungan dan kelestarian alam.

Dengan hadir menyaksikan dari dekat tradisi masyarakat dalam membangun rumah, Yung Sing Lim berpendapat bahwa bukan tidak mungkin bangunan lokal yang ada merupakan solusi untuk masa depan.

"Hotel Bintang 5, resort, restorant yang mewah  pun tentu harus didesign menggunakan bahan lokal," kata Pria Pemilik Studio Akanoma Bandung.

Menurutnya, orang di kampung melalui tradisi sudah berpikit jauh ke depan. Rumah Adat dasarnya dengan batu, bangunanya dari kayu, beratap ijuk atau ilalang, dengan banyak ukiran dan simbol di dalamnya. Sudut-sudut rumah  saling mengikat satu dengan yang lain.

"Saya terpesona dengan arsitek lokal dimana orang kampung sudah berpikir dan bertindak 100 kali lebih maju dengan kita  yang sekang hidup di era milenium ini," katanya.
 
Kunjungan Yung Sing Lim ke RMC (Foto : Nando Watu)
Rumah Adat atau Sao Ria seperti hanya diletakan di atas atas batu menjadi bangunan sungguh kuat. Tidaklah heran jika gempa sekalipun rumah-rumah adat tetap kokoh dan kuat.

"Sepertinya orang tua dan leluhur sudah sadar kalau Flores, pulau yang cantik ini masuk dalam zona Ring of Fire (Cincin API) yang selalu dilanda Gempa. Inilah kebijaksnaan lokal, warisan tradisi arsitek Nusantara yang harus dijaga dan dipelihara dan diwariskan,” ujarnya.

Selama di Ende,  Yu Sing bersama keluarga  tinggal  bersama warga di Detusoko. Dengan ini ia melihat dan mengalami berbagai keunikan hidup masyarakat Suku Lio, berbagi kisah dan cerita dengan teman-teman muda. Ia menotivasi anak-anak muda untuk membangun kampung, melihat geliat "arsitek" tradisonal Suku Lio dalam wajah bangunan rumah adat.

Nando Watu selaku Pengelola RMC menuturkan kehadiran Yu Sing ke Ende-Flores  khusus untuk berkolaborasi bersama RMC yang didukung oleh Javara, untuk siap mambangun Dari Desa.

"Kita memiliki smangat dan visi bersama  membangun Kaula muda dari pinggir dan dari desa untuk terlibat aktif dalam berbagai gerakan pembangunan," kata Nando.

Menurut Nando,pembangunan itu harus yang ramah lingkungan dan nyaman untuk kelangsungan hidup masa depan. Kata Nando, dalam kunjungan yang didukung  oleh Javara, Yu Sing juga memberikan motivasi dan semangat bagi kaula muda di Desa Detusoko,  berupaya untuk melibatkan kaula muda mencintai material-material lokal seperti batu, Kayu, bambu, ijuk dalam design atau membangun berbagai bangunan rumah, dan lain sebagainya.

Yu Sing menyelesaikan pendidikan arsitekturnya di jurusan arsitektur Institut Teknologi Bandung pada tahun 1999. Pemilik Studio Konsultan arsitek dengan nama Akanoma, singkatan dari akar anomali yakni memperkuat komitmen untuk senantiasa berakar pada konteks potensi Indonesia dan persoalan masyarakat yang “terpinggirkan”.

Yung Sing maktif aktif mengikuti dan menggagas berbagai kegiatan sosial maupun komunitas sosial. Sebuah proyek filantropi terbaru yang ia gagas adalah “Papan untuk Semua”, yang bergerak di bidang perumahan dan ruang publik untuk masyarakat.


 Dalam proyek ini, ia bersama dengan rekan-rekannya membantu memberikan desain gratis dan juga ikut menggalang dana untuk membuat rumah layak huni yang aman bagi beberapa masyarakat yang kurang mampu.(ND/Ben)

1 komentar:

  1. Mantap..culcure maintenance...Lio: Lise Ila Obo
    Kesederhanaan dan pesona warisan leluhur membuatmu dikenal hingga mancanegara..

    BalasHapus